
Sore itu saya berjalan di sepanjang jalan kota, dan mata saya menangkap sesuatu yang tidak biasa. Berjejer rapi di trotoar tengah jalan, dengan jarak sekitar tiga meter satu sama lain, berdiri salib-salib kayu setinggi satu meter. Masing-masing dihiasi kain ungu yang menjuntai di palang horizontalnya. Teratur. Simetris. Dan entah mengapa terasa ganjil.
Seorang kawan Muslim yang berjalan bersama saya berhenti sejenak, memandang deretan itu, lalu bertanya dengan nada yang tulus: “Inikah yang disebut Jalan Salib?”
Saya tertawa. Bukan tawa yang meremehkan, tapi tawa yang lahir dari kepolosan yang justru menyentuh sesuatu. Pertanyaan itu jujur. Dan kejujuran seperti itu adalah Saya tertawa. Bukan tawa yang meremehkan, tapi tawa yang lahir dari kepolosan yang justru menyentuh sesuatu. Pertanyaan itu jujur. Dan kejujuran seperti itu adalah pembuka dialog yang lebih jujur dari banyak obrolan antaragama yang biasanya basa-basi.
Saya jawab: dari cara penempatannya saja, ini bukan praktik Katolik. Tapi kalau mau tahu apa yang dimaksud Jalan Salib dalam tradisi Katolik, mari saya ceritakan.
Dalam Gereja Katolik, Jalan Salib atau Via Crucis bukan deretan benda fisik di pinggir jalan raya. Ia adalah devosi, perjalanan batin mengikuti sengsara Kristus dari pengadilan Pilatus hingga pemakaman, melalui empat belas perhentian yang masing-masing adalah undangan untuk berdiam, merenungkan, dan ikut menanggung. Inti dari “jalan” itu bukan aspalnya. Bukan jaraknya. Tapi perjalanan yang terjadi di dalam diri orang yang berdoa.
Peta bukan perjalanan itu sendiri. Salib fisik adalah penanda, bukan tujuan. Yang menjadi tujuan adalah perjumpaan dengan Kristus yang menderita sekaligus menyelamatkan, dan di dalamnya, perjumpaan dengan diri sendiri yang juga menanggung sesuatu.
Kawan saya mengangguk. Ia mengerti. Dan saya rasa ia menghargai penjelasan itu justru karena tidak disampaikan seperti kuliah.
Tapi ada hal lain yang mengganggu saya sepanjang sisa perjalanan itu.
Salib-salib itu ditanam di trotoar. Di tengah lalu lalang kaki, asap kendaraan, dan maaf untuk gambarannya tapi ini nyata, kemungkinan seekor anjing yang lewat dan melakukan apa yang biasa dilakukan anjing pada tiang-tiang di pinggir jalan.
Saya tidak tahu siapa yang menanam salib-salib itu. Niatnya saya asumsikan baik. Tapi niat baik tidak otomatis menghasilkan tindakan yang tepat.
Dan sebenarnya kita tidak perlu jauh-jauh ke teologi untuk merasakan keganjilan itu. Cukup gunakan standar yang sudah kita pakai sehari-hari. Foto Presiden kita pasang di tempat yang tinggi, bukan di bawah meja. Bendera Merah Putih kita jaga agar tidak menyentuh tanah, karena kita tahu ada martabat yang melekat padanya. Bahkan foto orang tua yang sudah tiada pun kita simpan dengan hormat, bukan kita selipkan di tumpukan koran bekas. Ini bukan aturan tertulis. Ini adalah logika penghormatan yang sudah kita internalisasi sebagai manusia yang hidup dalam komunitas beradab.
Maka bila standar itu kita terapkan secara konsisten, menaruh Salib di pembatas jalan raya adalah bukan sekadar soal rasa. Itu inkonsistensi dalam cara kita memberi nilai kepada sesuatu yang kita akui sendiri sebagai agung.
Ada ungkapan yang sudah lama menjadi semboyan bagi mereka yang menghayati Salib secara sungguh-sungguh: Crux Mihi Lux, Salib adalah terang bagiku. Kalimat ini bukan puisi. Ia adalah pernyataan iman yang menyiratkan sebuah logika penempatan: terang itu diletakkan di atas, agar menerangi. Pelita tidak ditaruh di bawah meja. Ia ditaruh di tempat yang terhormat, agar cahayanya menjangkau seisi ruangan.
Tradisi Gereja menempatkan Salib di altar, di puncak menara, di atas pintu rumah, bukan karena takhayul, bukan karena estetika semata, tapi karena posisi adalah bahasa. Cara kita menempatkan sesuatu mengungkapkan cara kita memandangnya.
Salib yang ditancapkan di trotoar, sejajar dengan pot bunga dan rambu lalu lintas, tidak lagi bekerja sebagai tanda. Ia hanya menjadi bagian dari pemandangan. Ia tetap berbentuk salib, tapi maknanya tidak lagi bergerak.
Yang ingin saya tegaskan adalah ini: simbol yang agung tidak otomatis dimuliakan oleh ukurannya atau jumlahnya. Ia dimuliakan oleh cara manusia memperlakukannya. Seribu salib di trotoar yang diabaikan tidak lebih bermakna dari satu salib kecil di sudut altar yang dijaga dengan hormat dan doa.
Dan bagi kami, umat Katolik, Salib bukan properti musiman yang dipasang menjelang Paskah lalu dicopot sesudahnya. Ia adalah tanda keselamatan yang memberi arah. Ia adalah terang. Dan terang, untuk berfungsi sebagaimana mestinya, harus ditempatkan di tempat yang layak, bukan di atas aspal yang tiap hari diinjak, dan mungkin sesekali dinodai oleh hal-hal yang tidak perlu saya sebutkan lagi.
Kawan Muslim saya hari itu bertanya dengan polos dan mendapat jawaban. Saya berharap mereka yang memasang salib-salib itu juga suatu saat bertanya, dan mendapat jawaban yang sama. Sebab masalah sesungguhnya bukan hanya soal di mana salib itu diletakkan, tapi apakah kita sendiri masih berhenti sejenak di hadapannya, atau sudah ikut berlalu tanpa memaknainya.
