Kemarin saya sempat mampir ke acara syukuran baptisan anak di salah satu pertemuan punguan. Baptisannya sendiri dilakukan di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Sepintas, saat mendengar khotbah dari pendetanya, saya merasa tidak ada yang terlalu asing. Secara prinsip, rumusan baptisannya pun sama: dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tritunggal. Fondasi yang sama.
Tapi dari situ muncul pertanyaan yang menarik untuk dipikirkan lebih jauh.
Tahukah bahwa gereja-gereja Protestan di Indonesia ternyata tidak seragam soal baptisan bayi? Ada yang mempraktikkannya, ada yang justru menolak keras.
Yang mempraktikkan baptisan bayi umumnya adalah gereja-gereja arus utama yang membawa tradisi Reformasi dan Lutheran: GKI, HKBP, GPIB, GKPS, dan sejenisnya. Bagi mereka, baptisan adalah tanda perjanjian kasih Allah yang sudah ada bahkan sebelum si anak bisa memilih apa pun.
Yang tidak mempraktikkannya adalah gereja-gereja beraliran Baptis, Pentakosta, dan Karismatik. Bagi mereka, baptisan hanya sah jika seseorang sudah bisa mengaku iman secara sadar dan pribadi.
Ternyata dalam satu rumpun iman yang sama pun, soal baptisan bayi saja sudah tidak satu suara.
Nah, di sinilah posisi Gereja Katolik menjadi unik. Katolik bukan hanya mempraktikkan baptisan bayi, tapi memiliki fondasi teologis yang sangat dalam untuk menjelaskan mengapa. Fondasinya bertumpu pada satu masalah yang diajarkan Gereja sejak awal: setiap manusia lahir membawa noda dosa asal (peccatum originale). Itulah mengapa bayi dibaptis sesegera mungkin, bukan menunggu mereka bisa bicara atau memilih. Tujuannya adalah memulihkan martabat mereka sebagai anak Allah dan membersihkan noda warisan itu secepat mungkin.
Di sinilah hubungannya dengan Bunda Maria menjadi sangat menarik. Kita, manusia biasa, mengalami dosa asal lalu disembuhkan melalui baptisan. Maria tidak pernah mengalami noda itu sama sekali. Melalui dogma Immaculata Conceptio, Gereja Katolik meyakini bahwa Allah memberikan rahmat pencegahan (redemptio praeservativa) kepada Maria sejak dalam kandungan ibunya, Santa Anna, agar ia layak menjadi tabut bagi Sang Sabda yang akan mengambil daging dari tubuhnya.
Keduanya berbeda caranya, tapi berdiri di atas prinsip yang sama: rahmat Allah selalu bergerak lebih dulu, bahkan sebelum manusia mampu merespons.
Jika baptisan bayi adalah cara Allah memulihkan manusia yang lahir dalam dosa asal, maka Maria Immaculata adalah bukti bahwa Allah sanggup menjaga seseorang tetap suci sejak awal. Dua kenyataan yang berbeda, satu logika kasih yang sama.
Penjelasan lengkapnya ada di artikel ini → https://credoetscribo.canonnimu.net/Baptisan%20Bayi%20dan%20Dewasa.html
