
Bagi banyak orang, nama C.S. Lewis mungkin identik dengan Narnia, dunia fantasi penuh petualangan yang tercipta dari imajinasinya. Namun, di balik kisah-kisah fantastisnya, Lewis memiliki perjalanan rohani yang menarik dan inspiratif. Kisah ini bagi saya menarik dibagikan mungkin ada kesamaan dengan perjalanan rohani kita sendiri. Selain itu, perjalanan Lewis juga mengenalkan kita pada tokoh-tokoh hebat seperti J.R.R. Tolkien, penulis The Hobbit dan Lord of the Rings (keduanya memiliki unsur simbolisme Katolik), serta tokoh G.K. Chesterton, seorang penulis dan apologis Katolik yang terkenal yang argumennya yang cerdas dan humoris.
Masa Kecil dan Ateisme
Clive Staples Lewis, atau yang akrab disapa Jack, lahir di Belfast, Irlandia pada tahun 1898. Sejak kecil, dia sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Di usia 10 tahun, dia sudah membaca banyak karya klasik dan menunjukkan minat besar pada mitologi dan agama.
Namun, masa remajanya diwarnai dengan tragedi. Ibunya meninggal saat dia berusia 9 tahun, dan ayahnya meninggal saat dia berusia 18 tahun. Kehilangan ini membuatnya mempertanyakan imannya dan pada akhirnya menjadi ateis.
Perjalanan Menuju Iman
Meskipun ateis, Lewis tetap tertarik dengan agama dan teologi. Dia sering berdiskusi dengan teman-temannya tentang berbagai topik spiritual. Salah satu teman yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah J.R.R. Tolkien, penulis The Hobbit dan Lord of the Rings.
Tolkien, seorang Katolik yang taat, sering berbicara tentang imannya kepada Lewis. Awalnya, Lewis tidak tertarik, tetapi lama kelamaan dia mulai terpengaruh oleh argumen Tolkien yang cerdas dan penuh kasih.
Pada tahun 1929, Lewis mengalami apa yang dia sebut sebagai “penyerahan diri”. Dia membaca buku-buku tentang apologetika Kristen, termasuk karya G.K. Chesterton, dan mulai memahami kebenaran Kekristenan.
Pertobatan dan Menjadi Katolik
Pada tahun 1931, Lewis dibaptis dan diterima ke dalam Gereja Inggris. Dia kemudian menjadi seorang apologis Kristen yang terkenal, menulis banyak buku tentang iman dan teologi, termasuk Mere Christianity dan The Screwtape Letters.
Meskipun menjadi anggota Gereja Inggris, Lewis selalu tertarik dengan Katolik. Dia sering mengunjungi gereja Katolik dan membaca buku-buku tentang teologi Katolik.
Pada tahun 1936, Lewis bertemu dengan seorang pendeta Katolik bernama Father Bede Jarrett. Melalui perbincangan dan bimbingan dari Father Jarrett, Lewis semakin memahami ajaran Katolik dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam Gereja Katolik pada tahun 1936.
Pengaruh Kehidupan Lewis
Perjalanan rohani C.S. Lewis adalah kisah yang inspiratif dan penuh makna. Melalui berbagai perjumpaan dan pengaruh dari orang-orang di sekitarnya, Lewis menemukan jalannya menuju iman Kristiani. Kisah ini menunjukkan bahwa iman dapat ditemukan melalui berbagai cara, dan bahwa iman dan akal budi tidak saling bertentangan.
Kisah Lewis juga menunjukkan pentingnya persahabatan dan pengaruh positif dalam perjalanan rohani seseorang. Lewis dikelilingi oleh orang-orang yang taat dan cerdas yang membantunya memahami iman dan menemukan jalannya menuju Tuhan.
Bagi banyak orang, C.S. Lewis bukan hanya seorang penulis fantasi yang terkenal, tetapi juga seorang pemikir Kristen yang inspiratif. Karyanya telah membantu banyak orang untuk memahami iman dan menemukan jalan mereka menuju Tuhan.
Beberapa Kisah Penting dalam Perjalanan Rohani C.S. Lewis:
- Perdebatan dengan Tolkien: Lewis dan Tolkien sering berdebat tentang agama dan teologi. Debat-debat ini membantu Lewis untuk mempertanyakan keyakinannya dan mulai mempertimbangkan Kekristenan.
- Membaca apologetika Kristen: Lewis membaca buku-buku tentang apologetika Kristen, seperti karya G.K. Chesterton, dan mulai memahami kebenaran Kekristenan.
- Pertobatan: Pada tahun 1929, Lewis mengalami “penyerahan diri” dan mulai memahami kebenaran Kekristenan. Pada tahun 1931, dia dibaptis dan diterima ke dalam Gereja Inggris.
- Pertemuan dengan Father Bede Jarrett: Pada tahun 1936, Lewis bertemu dengan Father Bede Jarrett, seorang pendeta Katolik yang membantunya memahami ajaran Katolik.
- Masuk ke dalam Gereja Katolik: Pada tahun 1936, Lewis masuk ke dalam Gereja Katolik.
Kisah C.S. Lewis menunjukkan bahwa iman dapat ditemukan melalui berbagai cara, termasuk melalui persahabatan, karya seni, dan pemikiran kritis. Pengalamannya menjadi bukti bahwa iman dan akal budi tidak saling bertentangan, tetapi justru dapat saling memperkuat.
