Memahami Ekaristi: Menjawab Pertanyaan tentang Roti dan Anggur yang “Menjadi” Tubuh dan Darah Kristus

Share

Dalam dialog antariman, umat Katolik sering dihadapkan dengan pertanyaan atau bahkan kritik tajam mengenai Ekaristi. Salah satu pertanyaan yang sering muncul berbunyi kurang lebih seperti ini:

“Mengapa kalian tidak benar-benar makan daging manusia dan minum darahnya, tetapi hanya roti/hosti dan anggur? Saya tidak pernah melihat roti tersebut berubah menjadi ‘daging’ dan anggur menjadi ‘darah’ secara nyata. Lagipula, Kitab Suci melarang konsumsi darah. Roti persembahan di Perjanjian Lama juga dilarang untuk dimakan. Ini juga termasuk kanibalisme. Jadi, ketika kalian secara ajaib mengubah anggur menjadi darah dan meminumnya, kalian menjadi pelaku hal yang dilarang. Dan ketika kalian secara ajaib mengubah roti menjadi daging Yesus, kalian juga menjadi pelaku hal yang dilarang. Teologi kalian tidak masuk akal.”

Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman yang mendalam dan jawaban yang logis atas pertanyaan tersebut, sehingga umat Katolik dapat memahami dan menjelaskan iman mereka dengan percaya diri.

1. Transubstansiasi: Ketika Roti dan Anggur “Menjadi” Tubuh dan Darah Kristus

Kunci untuk memahami Ekaristi dalam iman Katolik adalah konsep “transubstansiasi”. Istilah ini mungkin terdengar rumit, tetapi sebenarnya menjelaskan hal yang sangat penting. Mari kita uraikan dengan sederhana:

Apa itu transubstansiasi?

Transubstansiasi adalah ajaran bahwa selama konsekrasi dalam Perayaan Ekaristi, substansi (hakikat atau realitas terdalam) dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, sementara aksidens (penampilan luar seperti rasa, bentuk, warna) tetap sama seperti roti dan anggur.

Dalam filosofi yang diadopsi oleh teologi Katolik:

  • Substansi adalah “apa sesuatu itu pada hakikatnya” (esensi terdalam)
  • Aksidens adalah “bagaimana sesuatu itu tampak” (sifat-sifat luar yang dapat diamati panca indera)

Ketika imam mengucapkan kata-kata konsekrasi (“Inilah Tubuh-Ku… Inilah Darah-Ku…”), terjadilah perubahan substansi, sementara penampilan luarnya tetap sama. Inilah mengapa kita tidak melihat roti berubah menjadi daging secara fisik atau anggur berubah menjadi darah secara visual.

Dasar Alkitabiah:

Ajaran ini berdasarkan kata-kata Yesus sendiri dalam Perjamuan Terakhir:

  • “Inilah Tubuh-Ku…” (Matius 26:26)
  • “Inilah Darah-Ku…” (Matius 26:28)

Juga dalam Yohanes 6:51-56, Yesus dengan tegas mengatakan:

“Aku adalah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Ketika banyak murid-Nya terkejut dan berkata “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yohanes 6:60), Yesus tidak menarik kembali perkataan-Nya atau menjelaskan bahwa itu hanya kiasan. Sebaliknya, Ia membiarkan banyak murid-Nya pergi. Ini menunjukkan bahwa Yesus bermaksud kata-katanya dipahami secara harfiah.

2. Apakah Ekaristi Melanggar Larangan Meminum Darah?

Benar bahwa dalam Perjanjian Lama ada larangan tegas mengenai konsumsi darah:

“Setiap orang dari kaum Israel atau dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka yang memakan darah apa pun, Aku akan menentang orang itu yang memakan darah dan melenyapkannya dari tengah-tengah bangsanya.” (Imamat 17:10)

Bagaimana kita memahami hal ini dalam konteks Ekaristi?

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru:

  1. Konteks larangan: Larangan dalam Imamat terkait dengan sistem kurban Perjanjian Lama. Darah hewan dianggap sebagai tempat kehidupan berada dan diperuntukkan bagi altar sebagai sarana penebusan.
  2. Penggenapan, bukan pelanggaran: Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Kristus datang bukan untuk menghapus hukum tetapi untuk menggenapinya (Matius 5:17). Ekaristi adalah penggenapan dari semua kurban Perjanjian Lama.
  3. Perubahan dalam Perjanjian Baru: Yesus sendiri menegaskan “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:28). Ini mengindikasikan bahwa darah-Nya memiliki signifikansi baru yang melampaui larangan Perjanjian Lama.
  4. Konteks Kisah Rasul 15: Memang benar bahwa para rasul dalam Kisah 15:28-29 memerintahkan orang-orang non-Yahudi untuk tetap menjauhkan diri dari darah. Namun, ini dipahami sebagai keputusan pastoral sementara untuk memfasilitasi persekutuan antara orang Yahudi dan non-Yahudi dalam gereja mula-mula, bukan sebagai hukum permanen.

3. Bagaimana dengan Roti Sajian (Showbread)?

Kita juga diminta menjawab pertanyaan tentang “roti sajian” atau “roti hadapan” dari Perjanjian Lama yang hanya boleh dimakan oleh para imam:

Hubungan Roti Sajian dengan Ekaristi:

  1. Prefigurasi: Roti sajian adalah “bayangan” atau “gambaran awal” dari realitas yang lebih besar yang akan datang. Seperti banyak ritual Perjanjian Lama, ini mengantisipasi Ekaristi.
  2. Pemenuhan: Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyebut diri-Nya “roti hidup” (Yohanes 6:51). Ekaristi adalah penggenapan dari simbol roti sajian.
  3. Perluasan akses: Sementara roti sajian hanya untuk para imam, Ekaristi tersedia bagi semua umat beriman. Ini menunjukkan perluasan akses kepada Allah melalui Kristus.
  4. Otoritas Kristus: Yesus sendiri menggunakan contoh Daud dan teman-temannya yang makan roti sajian (Matius 12:3-4) untuk menunjukkan bahwa Ia, sebagai Mesias, memiliki otoritas untuk menafsirkan ulang praktik-praktik sakral.

4. Apakah Ekaristi adalah Kanibalisme?

Tuduhan bahwa Ekaristi adalah bentuk kanibalisme mungkin terdengar mengejutkan bagi banyak orang Katolik. Mari kita telaah mengapa tuduhan ini tidak tepat:

Mengapa Ekaristi Bukan Kanibalisme:

  1. Perbedaan hakikat: Kanibalisme melibatkan konsumsi fisik daging manusia yang sudah mati. Ekaristi melibatkan penerimaan sakramental Tubuh dan Darah Kristus yang hidup dan dimuliakan.
  2. Cara penerimaan: Ekaristi diterima secara sakramental (di bawah penampilan roti dan anggur), bukan secara fisik seperti memakan daging pada umumnya.
  3. Kristus tidak berkurang: Dalam Ekaristi, Kristus tidak “dikonsumsi” dalam arti dikurangi atau dihabiskan. Bahkan partikel terkecil dari hosti yang dikonsekrasi mengandung seluruh Kristus.
  4. Tujuan spiritual: Tujuan Ekaristi adalah persatuan spiritual dengan Kristus, bukan nutrisi fisik seperti dalam konsumsi makanan biasa.
  5. Perintah Ilahi: Ekaristi diperintahkan oleh Kristus sendiri (“Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku”), membedakannya dari praktik kanibalisme yang dilakukan atas inisiatif manusia.

5. Kesaksian Gereja Perdana: Apa yang Dipercaya Umat Kristen Awal?

Penting untuk mengetahui bahwa pemahaman tentang Ekaristi sebagai kehadiran nyata Kristus bukanlah “penemuan abad pertengahan” seperti kadang-kadang diklaim. Para Bapa Gereja sudah menulis tentang hal ini sejak abad pertama:

St. Ignatius dari Antiokhia (sekitar 110 M):

“Mereka menjauhkan diri dari Ekaristi dan doa, karena mereka tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah daging dari Juru Selamat kita Yesus Kristus, daging yang menderita bagi dosa-dosa kita dan yang Bapa bangkitkan dalam kebaikan-Nya.”

St. Yustinus Martir (sekitar 150 M):

“Karena kami tidak menerima makanan ini sebagai roti biasa dan minuman biasa; tetapi sebagaimana Yesus Kristus, Juru Selamat kami, yang menjadi daging oleh Firman Allah, memiliki daging dan darah untuk keselamatan kita, demikian juga kami telah diajarkan bahwa makanan yang telah diberkati dengan doa dari Firman-Nya… adalah daging dan darah dari Yesus yang berinkarnasi.”

Kesaksian-kesaksian ini menunjukkan kontinuitas ajaran Gereja tentang Ekaristi dari masa para rasul hingga sekarang.

6. Konsistensi Teologis: Perjamuan yang Dijanjikan

Ajaran tentang kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi bukan hanya konsisten dengan kata-kata Yesus, tetapi juga dengan seluruh narasi keselamatan dalam Kitab Suci:

  1. Dari Manna hingga Ekaristi: Ada perkembangan dari manna di padang gurun (roti dari surga untuk kebutuhan fisik), hingga Ekaristi (Roti Hidup untuk kebutuhan spiritual).
  2. Dari Paskah ke Perjamuan Terakhir: Perjamuan Paskah Yahudi, yang memperingati pembebasan dari Mesir, digenapi dalam Perjamuan Terakhir yang memperingati pembebasan dari dosa.
  3. Dari kurban binatang ke kurban Kristus: Semua kurban Perjanjian Lama menunjuk pada satu kurban sempurna Kristus yang dihadirkan kembali dalam Ekaristi.

Kesimpulan: Misteri Iman yang Mendalam

Ekaristi memang adalah misteri iman yang mendalam. Bukan karena tidak masuk akal, tetapi karena begitu dalam sehingga akal manusia tidak dapat sepenuhnya memahaminya tanpa iman. Seperti banyak aspek iman Kristen (Tritunggal, Inkarnasi), Ekaristi melampaui pemahaman manusia sepenuhnya.

Ketika menghadapi pertanyaan atau kritik tentang Ekaristi, kita dapat menjawab dengan keyakinan bahwa:

  1. Ekaristi bukan pelanggaran hukum Musa, tetapi penggenapannya.
  2. Ekaristi bukan kanibalisme, tetapi persatuan sakramental dengan Kristus yang hidup.
  3. Ekaristi memiliki dasar alkitabiah yang kuat dalam kata-kata Yesus sendiri.
  4. Ekaristi telah diyakini oleh Gereja sejak awal sebagai kehadiran nyata Kristus.

Sebagai umat Katolik, kita menerima Ekaristi bukan sebagai simbol belaka, tetapi sebagai Kristus sendiri yang memberikan diri-Nya kepada kita secara sakramental—tubuh, darah, jiwa, dan ke-Allah-an-Nya. Ini adalah karunia cinta yang melampaui semua pengertian manusia, dan menjadi sumber serta puncak kehidupan iman kita.


“Siapa yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yohanes 6:56)