“Makan Tubuh dan Minum Darah”: Simbol atau Realita?

Share

Bayangkan Anda berada di antara kerumunan yang mendengarkan Yesus. Lalu tiba-tiba Ia berkata:

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.”
(Yohanes 6:53–54)

Pernyataan ini bukan hanya mengejutkan—tapi sulit diterima. Banyak yang langsung mengeluh:

“Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”
(Yohanes 6:60)

Namun Yesus tidak menarik kembali ucapannya. Ia tidak menjelaskan bahwa itu hanya simbol. Sebaliknya, Ia menegaskan bahwa perkataan-Nya adalah hidup dan roh. Dan reaksi mereka pun jelas:

“Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.”
(Yohanes 6:66)

Kalau memang hanya perumpamaan, mengapa Yesus tidak menjelaskan seperti yang biasa Ia lakukan pada banyak ajaran lainnya?


Kesaksian Paulus: Bukan Sekadar Lambang

Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, Paulus menulis dengan nada yang serius:

“Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan… Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.”
(1 Korintus 11:27–29)

Peringatan ini tidak bisa dipahami hanya sebagai ajakan untuk menjaga sikap hati. Paulus berbicara seolah-olah ada kehadiran yang sungguh nyata dalam roti dan anggur itu. Suatu kehadiran yang bisa dihormati—atau justru dinodai.


Dua Tradisi, Dua Pendekatan

✦ Gereja Katolik:

  • Transubstansiasi: roti dan anggur sungguh menjadi Tubuh dan Darah Kristus, walau tampaknya tetap sama secara fisik.
  • Syarat rohani: hanya yang dalam keadaan rahmat dan beriman penuh yang dapat menyambut Komuni.
  • Komuni terbatas: sebagai wujud penghormatan dan kesatuan iman.

✦ Banyak komunitas Protestan:

  • Makna simbolik: Ekaristi dilihat sebagai lambang pengorbanan Kristus.
  • Fokus pada iman pribadi, bukan pada kehadiran nyata dalam roti dan anggur.
  • Komuni terbuka: semua yang percaya diundang, tanpa syarat doktrinal khusus.

Pertanyaan yang Tak Bisa Diabaikan

  • Jika Yesus hanya berbicara secara simbolis, mengapa banyak murid meninggalkan-Nya?
  • Jika Perjamuan Terakhir hanyalah kenangan, mengapa Yesus berkata “Inilah tubuh-Ku” dan bukan “Ini melambangkan tubuh-Ku”?
  • Jika tidak ada kehadiran nyata, mengapa Paulus menekankan akibat rohani yang serius bagi siapa pun yang tidak menyadari makna sebenarnya dari roti dan anggur itu?

Simbol itu mudah dipahami. Tapi reaksi para murid bukan reaksi terhadap simbol. Mereka mundur karena merasa Yesus mengatakan sesuatu yang, bagi mereka, terlalu harfiah untuk diterima.


Penutup: Sebuah Misteri yang Layak Dihormati

Bila kita menempatkan seluruh narasi dalam kerangka besar pewahyuan Kristiani, maka posisi Katolik memang menawarkan kesinambungan yang lebih menyatu: dari kata-kata Yesus, tindakan-Nya dalam Perjamuan Terakhir, hingga sakramen yang diwariskan oleh Gereja mula-mula.

Namun, perdebatan ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia dibentuk oleh tradisi, sejarah, dan cara membaca Kitab Suci yang berkembang selama berabad-abad. Maka, mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukanlah: “Siapa yang paling akurat?”

Melainkan:

“Bagaimana kita menyikapi misteri ini dengan hati yang rendah, akal sehat yang terbuka, dan iman yang bersandar pada Kristus yang sungguh hadir—secara nyata dan penuh, dalam rupa yang tampak sederhana?”

Karena dalam menghadapi hal-hal suci, kadang bukan jawaban yang paling mendesak, melainkan ketakjuban yang jujur.


📌 Catatan akhir: Misteri bukanlah kebingungan. Ia adalah kedalaman. Dan terkadang, iman bertumbuh justru saat kita berani berdiri hening di hadapan-Nya.