Ada saat-saat dalam Gereja ketika kita mendengar kritikan untuk tidak terlalu gigih dalam “mengajak orang lain masuk.” Kritikan ini terdengar aneh. Sebenarnya, Gereja telah menghadapi tantangan yang berbeda dalam penginjilan, yaitu menjadi terlalu beradaptasi dengan dunia dan kadang-kadang kurang tegas. Namun, mari kita pertimbangkan apakah benar kita harus mengurangi semangat dalam mengajak orang lain masuk.
Gereja selalu mengingatkan bahwa memaksa orang untuk berubah keyakinan adalah pelanggaran serius terhadap martabat dan hati nurani individu. Kebebasan adalah anugerah yang sangat berharga. Anda mungkin bisa dikurung atau dimanipulasi, tetapi hanya Anda yang dapat sepenuhnya memutuskan apa yang Anda yakini. Ini adalah nilai dasar yang dinyatakan dalam Alkitab ketika Rasul Paulus mengatakan bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah melalui Kristus Yesus.
Jadi, mengapa ada kontroversi mengenai “mengajak orang lain masuk” jika ajaran Gereja dengan jelas melarangnya dan sebenarnya bukan masalah yang besar dalam hubungan Gereja dengan dunia? Penyebabnya mungkin adalah kebingungan dalam istilah. Ada perbedaan antara “mengajak orang lain masuk” dan “menginjili.” Menghentikan penginjilan sama saja dengan menghentikan misi Gereja. Tujuannya adalah agar orang berubah keyakinan dan masuk ke dalam komunitas Gereja Katolik.
Kisah Santo Agustinus:
Untuk lebih memahami arti penting pertobatan dalam penginjilan, kita dapat melihat ke kisah Santo Agustinus. Santo Agustinus adalah seorang pemikir besar dalam sejarah Gereja yang pada awalnya hidup dalam kesesatan dan kehidupan yang tidak bermoral. Namun, melalui pertobatan pribadinya, ia mengalami perubahan besar dan menjadi seorang santo. Ini adalah contoh nyata betapa pentingnya pertobatan dalam penginjilan. Kadang-kadang, kita perlu mengajak orang lain untuk berpikir ulang tentang kehidupan dan keyakinan mereka.
Kisah Kontroversi Donatist:
Dalam sejarah Gereja, terdapat kontroversi dengan kelompok yang disebut Donatist. Dalam kontroversi Donatist, kelompok ini berpendapat bahwa para imam yang murtad dari iman Katolik tidak boleh melayani sakramen. Dalam konteks ini, mereka berbicara tentang para imam yang telah meninggalkan iman Katolik dan kemudian kembali lagi, dan mereka menolak menerima layanan sakramen dari imam-imam ini. Jadi, mereka melarang para imam yang pernah murtad untuk melayani sakramen dalam gereja mereka. Santo Agustinus, melalui argumennya, menekankan bahwa kekuasaan sakramen berasal dari jabatan imam, bukan dari karakter pribadi mereka. Ini menggarisbawahi pentingnya pertobatan dan pengampunan dalam penginjilan.
Kisah Pertemuan Santo Paulus di Athena:
Santo Paulus, salah satu rasul utama, mendatangi kota Athena yang dipenuhi dengan berbagai keyakinan. Ia berdiskusi dengan orang-orang di sana tentang imannya. Ini adalah contoh penginjilan yang berani dan berbicara dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Terkadang, kita perlu berbicara dengan orang-orang di tengah keberagaman keyakinan.
Kisah Karya Santa Teresa:
Santa Teresa, seorang wanita Albania yang sederhana, melakukan penginjilan melalui karya-karya rahmat korporal di lingkungan kumuh Kolkata. Meskipun tampak sederhana, dia telah melakukan penginjilan global yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa penginjilan bisa dilakukan melalui tindakan sederhana yang penuh kasih.
Semua kisah ini mengilustrasikan bahwa penginjilan memiliki beragam cara dan konteks. Terkadang, kita perlu mengajak orang untuk berpikir ulang atau berbicara dengan berani. Namun, yang paling penting adalah menjaga kebebasan orang dalam merespons pesan Gereja. Tidak boleh ada paksaan. Tetapi itu tidak berarti kita bisa mengabaikan tugas menginjil. Menolaknya adalah menolak perintah Kristus. Jadi, jangan biarkan kritikan tentang “mengajak orang lain masuk” membuat kita lupa bahwa fokus utama adalah menginjil, seperti yang diajarkan oleh Santo Agustinus, Donatist, Santo Paulus di Athena, dan Santa Teresa.
