Saat Orang Tahu yang Benar, tapi Tetap Mencari Alasan

Share

Kita sering mengira masalah manusia adalah kurang tahu. Kurang informasi. Kurang penjelasan. Kurang ayat. Kurang nasihat.

Padahal sering kali masalahnya bukan itu.

Banyak orang sudah tahu yang benar, tetapi tetap mencari alasan untuk tidak melakukannya. Sudah tahu harus mengasihi, tetapi masih mencari batas. Sudah tahu harus menolong, tetapi masih mencari pengecualian. Sudah tahu arah yang benar, tetapi tetap bertanya seolah-olah semuanya belum jelas.

Di titik inilah kisah Orang Samaria yang Baik Hati menjadi jauh lebih tajam.

Kisah ini bukan hanya tentang orang Samaria yang menolong. Ini juga tentang seorang ahli Taurat yang tahu jawabannya, tetapi tetap mencari celah untuk membenarkan dirinya.

Masalahnya bukan karena ia tidak tahu.

Masalahnya justru karena ia tahu.


Kisah Ini Tidak Dimulai dari Orang Samaria

Lukas 10 tidak langsung membuka cerita dengan seseorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho lalu jatuh ke tangan penyamun. Sebelum cerita itu muncul, ada seorang ahli Taurat yang berdiri untuk mencobai Yesus.

Ia bertanya:

“Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Lukas sudah membuka kartunya sejak awal. Pertanyaan itu bukan lahir dari hati yang sedang mencari kebenaran. Itu pertanyaan ujian. Ia bukan datang sebagai murid yang ingin dibentuk, tetapi sebagai ahli hukum yang ingin menguji.

Yesus tidak langsung menjawab. Ia balik bertanya:

“Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”

Jawaban ahli Taurat itu tepat. Ia mengutip hukum kasih: kasih kepada Allah dengan seluruh diri, dan kasih kepada sesama seperti diri sendiri.

Yesus mengonfirmasi jawabannya:

“Jawabmu itu benar. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Sampai di sini, sebenarnya percakapan sudah selesai. Pertanyaannya sudah dijawab. Standarnya sudah jelas. Jalan hidup sudah ditunjukkan.

Tetapi ahli Taurat itu belum berhenti.

Di situlah persoalannya mulai terbuka.


Ia Tidak Bertanya untuk Mengerti, tetapi untuk Membenarkan Diri

Lukas menulis:

“Tetapi untuk membenarkan dirinya, ia berkata kepada Yesus: ‘Dan siapakah sesamaku manusia?’”

Kalimat ini kunci seluruh perikop.

Ia tidak bertanya karena belum paham. Ia baru saja memberi jawaban yang benar. Ia tahu isi hukum. Ia tahu tuntutan kasih. Ia tahu konsekuensinya.

Yang ia cari bukan pengertian. Yang ia cari adalah celah.

Pertanyaan “siapakah sesamaku?” bukan pertanyaan polos. Dalam konteks Yahudi saat itu, pertanyaan seperti ini dapat dipakai untuk menentukan batas kewajiban moral. Siapa yang termasuk “sesama”? Siapa yang wajib dikasihi? Siapa yang boleh dikecualikan?

Dengan kata lain, ia sedang mencari pagar.

Kasih mau dibatasi. Kewajiban mau dipersempit. Hukum Allah mau dijadikan daftar teknis: orang ini wajib saya kasihi, orang itu boleh saya lewati.

Itulah cara manusia membenarkan diri: bukan dengan menolak hukum secara terang-terangan, tetapi dengan mempersempit maknanya sampai tidak lagi mengganggu kenyamanan sendiri.


Yesus Tidak Menjawab dalam Kerangka yang Salah

Menariknya, Yesus tidak menjawab dengan definisi.

Ia tidak berkata, “Sesamamu adalah A, B, dan C.” Ia tidak membuat daftar. Ia juga tidak memberi batas wilayah kasih.

Sebaliknya, Yesus bercerita.

Ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun. Ia dirampok, dipukul, ditinggalkan setengah mati.

Seorang imam lewat. Ia melihat, lalu menyingkir.
Seorang Lewi lewat. Ia melihat, lalu menyingkir.
Lalu datang seorang Samaria.

Justru orang yang secara sosial dan religius dipandang rendah itulah yang berhenti. Ia mendekat. Ia membalut luka. Ia membawa orang itu ke penginapan. Ia membayar biayanya. Ia bahkan bersedia menanggung kekurangannya nanti.

Kasihnya bukan slogan. Kasihnya bekerja. Kasihnya punya biaya.

Sesudah itu Yesus bertanya:

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”

Perhatikan pergeserannya.

Ahli Taurat bertanya: “Siapakah sesamaku?”
Yesus bertanya: “Siapa yang menjadi sesama bagi orang yang terluka itu?”

Ahli Taurat ingin tahu siapa yang masuk daftar.
Yesus membongkar daftar itu.

Ahli Taurat ingin menentukan siapa yang layak menerima kasih.
Yesus menunjukkan bahwa pertanyaan yang benar adalah: apakah engkau mau bertindak sebagai sesama?

Jadi Yesus tidak hanya menjawab pertanyaannya. Yesus membongkar cara berpikir di balik pertanyaan itu.


Ia Tahu Jawabannya, tetapi Tidak Mau Mengucapkan Namanya

Ada satu detail kecil yang keras.

Ketika Yesus bertanya siapa yang menjadi sesama bagi orang yang terluka itu, ahli Taurat menjawab:

“Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”

Jawaban itu benar. Tetapi perhatikan: ia tidak menyebut “orang Samaria.”

Padahal semua orang tahu siapa tokoh dalam cerita itu. Tokohnya jelas. Tetapi kata itu tidak keluar dari mulutnya.

Ia tahu jawabannya. Ia tahu siapa yang bertindak benar. Tetapi ia masih tidak sanggup menyebut namanya.

Di situ luka batinnya terlihat. Bukan luka karena kurang informasi, tetapi karena kebenaran yang ia lihat bertabrakan dengan prasangka yang ia pelihara.

Ia bisa mengakui tindakan belas kasihnya. Tetapi ia belum sanggup mengakui orangnya.

Itulah manusia ketika berhadapan dengan kebenaran yang tidak nyaman: tahu, tetapi menahan diri. Mengerti, tetapi mengelak. Melihat, tetapi tidak mau mengucapkan.


Renungan yang Terlalu Aman Kehilangan Pukulan Teks

Karena itu, membaca kisah ini hanya sebagai ajakan “jadilah orang baik” memang benar, tetapi belum cukup.

Kisah ini bukan sekadar tentang kemurahan hati orang Samaria. Kisah ini juga tentang seorang ahli Taurat yang memakai pertanyaan rohani untuk menghindari kewajiban moral.

Ia datang bukan karena tidak tahu. Ia datang karena ingin mendapat pembenaran untuk tidak melakukan apa yang sudah ia tahu.

Dan Yesus tidak memberi ruang untuk itu.

Yesus tidak mengizinkan hukum kasih dipersempit menjadi permainan definisi. Ia tidak membiarkan “siapa sesamaku?” menjadi alat untuk memilih siapa yang boleh dikasihi dan siapa yang boleh diabaikan.

Dengan satu cerita, Yesus memindahkan pusat pertanyaan.

Bukan lagi: “Siapa yang wajib saya kasihi?”
Tetapi: “Apakah saya mau menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan belas kasihan?”

Itu jauh lebih tajam. Sebab pertanyaan pertama masih memberi ruang untuk mengelak. Pertanyaan kedua langsung menelanjangi hati.


Penutup

Kisah Orang Samaria yang Baik Hati bukan hanya cerita tentang kebaikan. Ini cerita tentang manusia yang tahu kebenaran, tetapi mencari cara agar kebenaran itu tidak menuntut apa-apa darinya.

Ahli Taurat itu tahu hukum. Ia tahu jawabannya. Ia tahu arah yang benar.

Tetapi ia ingin membatasi kasih supaya dirinya tetap terlihat benar tanpa perlu berubah.

Yesus menutup semua pintu keluar itu dengan satu kalimat:

“Pergilah, dan perbuatlah demikian.”

Bukan sekadar tahu.
Bukan sekadar menjawab benar.
Bukan sekadar punya ayat yang tepat.

Perbuatlah demikian.

Karena masalah terbesar sering bukan tidak tahu yang benar.

Masalahnya: sudah tahu, tetapi tetap mencari alasan.