Ada pertanyaan yang kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya membawa asumsi yang perlu dibongkar:
Alkitab lebih mengenal Yesus sebagai Anak Daud atau Anak Maria?
Sekilas ini seperti pertanyaan biasa. Tinggal hitung saja: berapa kali “Anak Daud” disebut, berapa kali “anak Maria” disebut, lalu ambil kesimpulan.
Masalahnya, Alkitab tidak sedang bermain statistik istilah. Alkitab tidak sedang membuat papan skor tokoh. Dan teologi Kristen tidak dibangun dengan cara menghitung kata seperti menghitung suara pemilihan ketua panitia.
Di sinilah argumen itu mulai pincang.
Anak Daud adalah gelar Mesianik
Alkitab memang lebih sering memakai gelar “Anak Daud”.
Itu benar.
Tetapi kenapa gelar itu sering muncul?
Karena “Anak Daud” adalah gelar Mesianik. Gelar itu menegaskan bahwa Yesus adalah Raja yang dijanjikan Allah kepada Daud. Ia menjawab janji Allah dalam sejarah Israel. Ia menunjuk kepada penggenapan nubuat. Ia menyatakan bahwa Yesus bukan Mesias yang muncul tanpa akar, tetapi Raja yang datang dalam garis janji Allah.
Jadi ketika orang-orang berseru kepada Yesus sebagai Anak Daud, itu bukan sekadar informasi silsilah. Itu pengakuan Mesianik.
Katolik tidak menyangkal itu. Justru Katolik mengimani itu.
Yesus adalah Mesias. Yesus adalah Anak Daud. Yesus adalah Raja yang dijanjikan.
Tetapi dari fakta itu tidak otomatis lahir kesimpulan bahwa Maria boleh dikecilkan.
Itu lompatan yang terlalu jauh.
Lahir dari Maria adalah fakta Inkarnasi
“Anak Daud” adalah gelar Mesianik.
“Lahir dari Maria” adalah fakta Inkarnasi.
Dua hal ini tidak memiliki fungsi yang sama.
Yang satu menjawab janji kerajaan. Yang satu menjawab kenyataan bahwa Sang Firman sungguh menjadi manusia.
Kristus bukan hanya ide Mesianik. Kristus bukan sekadar konsep teologis. Kristus bukan raja rohani yang turun tanpa tubuh, tanpa darah, tanpa rahim, tanpa sejarah manusia.
Ia sungguh menjadi manusia.
Ia lahir dari seorang perempuan.
Ia masuk ke dalam dunia secara nyata.
Maka jangan pakai hitungan kata untuk mengecilkan fakta Inkarnasi.
Alkitab tidak perlu mengulang “anak Maria” berkali-kali sebagai gelar, karena seluruh narasi Injil sudah menunjukkan bahwa Sang Firman menjadi manusia melalui kelahiran dari Maria.
“Anak Daud” menjawab janji Mesianik.
“Lahir dari Maria” menjawab kenyataan Inkarnasi.
Dua-duanya berbicara tentang Kristus yang sama.
Hitungan kata bukan timbangan teologi
Kalau standar kebenaran doktrin adalah “seberapa sering istilah itu muncul”, maka banyak doktrin Kristen akan runtuh.
Kata “Trinitas” tidak muncul sebagai istilah eksplisit dalam Alkitab. Tetapi orang Kristen yang ortodoks tidak membuang Trinitas hanya karena kata itu tidak muncul.
Rumusan teknis tentang dua kodrat Kristus juga tidak muncul dalam bentuk sistematis seperti dalam konsili. Tetapi iman Kristen tetap mengakuinya karena seluruh kesaksian Kitab Suci mengarah ke sana.
Jadi frekuensi penyebutan adalah data bahasa. Bukan timbangan teologi.
Masalahnya bukan pada data bahwa “Anak Daud” lebih sering muncul. Masalahnya ada pada kesimpulan yang ditarik dari data itu.
Dari “Anak Daud lebih sering disebut” tidak otomatis menjadi “Maria tidak penting dalam rencana keselamatan”.
Itu bukan kesimpulan. Itu lompatan.
Kitab Suci bukan daftar absensi gelar
Ada juga pertanyaan lain:
Kalau Maria memang dimaksudkan dikenal Gereja sebagai Dikandung Tanpa Noda, Perawan Abadi, atau Ratu Surga, mengapa Kitab Suci tidak menonjolkan gelar-gelar itu?
Pertanyaan ini tampak kuat, tetapi standarnya harus diuji.
Kitab Suci tidak bekerja seperti daftar absensi gelar. Tidak semua kebenaran iman muncul sebagai istilah teknis yang diulang-ulang.
Ada yang dinyatakan langsung.
Ada yang dinyatakan lewat pola.
Ada yang dinyatakan lewat nubuat.
Ada yang dinyatakan lewat tipologi.
Ada yang dinyatakan lewat salam malaikat, peran dalam sejarah keselamatan, dan pemahaman Gereja atas seluruh kesaksian iman.
Maka pertanyaannya bukan sekadar, “berapa kali gelar itu muncul?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah peran Maria dalam Inkarnasi disaksikan oleh Kitab Suci?
Jawabannya jelas: ya.
Maria melahirkan Kristus.
Maria disebut penuh rahmat.
Maria disebut diberkati di antara perempuan.
Elisabet menyebutnya ibu Tuhanku.
Maria sendiri berkata segala keturunan akan menyebut dia berbahagia.
Itu tidak menjadikan Maria pusat Injil.
Tetapi itu juga tidak memberi izin untuk mengecilkan Maria seolah hanya catatan kaki.
Standar eksplisit itu senjata makan tuan
Kalau standar “harus tertulis eksplisit” mau dipakai untuk menolak Mariologi, standar yang sama harus dipakai dulu untuk menguji Sola Scriptura.
Sebab Sola Scriptura tidak hanya absen sebagai rumusan eksplisit dalam Kitab Suci. Bahkan secara implisit pun tidak ada pola ajaran bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya otoritas iman yang mengikat, terpisah dari Tradisi Apostolik dan Gereja.
Sebaliknya, Kitab Suci sendiri menunjuk kepada Gereja sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Timotius 3:15), dan kepada ajaran yang diterima baik secara lisan maupun tertulis untuk dipegang teguh (2 Tesalonika 2:15).
Jadi premis yang dipakai untuk menolak Mariologi justru tidak bisa bertahan di hadapan Kitab Suci yang sama.
Standarnya runtuh sendiri.
Anak Daud justru mengandaikan Maria
Ini poin yang sering luput.
Injil Matius menampilkan garis Daud melalui Yusuf. Tetapi Injil yang sama juga menegaskan bahwa Yusuf bukan ayah biologis Yesus.
Maka kalau seseorang mau menekankan bahwa Yesus adalah Anak Daud bukan hanya secara legal, tetapi juga sungguh masuk ke dalam sejarah manusia secara nyata, Maria tidak bisa dikesampingkan.
Sebab dari Marialah Sang Firman menerima kemanusiaan-Nya.
Janji kepada Daud tidak turun ke dunia sebagai ide abstrak.
Janji itu menjadi daging dalam rahim Maria.
Jadi memakai gelar “Anak Daud” untuk mengecilkan Maria justru membuat argumen itu pincang.
Yang dipakai untuk menyingkirkan Maria justru diam-diam membutuhkan Maria.
Senjata makan tuan.
Immaculate Conception bukan karikatur yang sering diserang
Lalu muncul pertanyaan:
Apakah fakta bahwa Maria adalah ibu biologis Yesus otomatis membuktikan Maria harus dikandung tanpa noda dosa?
Jawaban singkat: tidak.
Fakta bahwa Maria adalah ibu biologis Yesus tidak otomatis, dengan sendirinya, membuktikan Immaculate Conception, atau Dikandung Tanpa Noda.
Tetapi itu juga bukan klaim Katolik.
Katolik tidak mengajarkan bahwa Yesus kudus karena Maria menjadi sumber kekudusan-Nya.
Katolik tidak mengajarkan bahwa Roh Kudus kurang cukup, lalu harus dibantu oleh kesucian Maria.
Bukan begitu.
Yesus kudus karena Dia adalah Putra Allah, dikandung oleh Roh Kudus, dan Pribadi-Nya adalah Pribadi Ilahi.
Immaculate Conception bukan ajaran bahwa Maria menyelamatkan Yesus dari dosa.
Immaculate Conception adalah ajaran bahwa Maria sendiri diselamatkan oleh Kristus secara istimewa dan preventif sejak awal keberadaannya, karena jasa Kristus.
Jadi kalau pertanyaannya, “apakah Maria harus tanpa noda supaya Yesus bisa kudus?”, maka itu bukan ajaran iman Katolik.
Itu karikatur terhadap ajaran iman Katolik.
Jangan membantah versi yang bukan ajaran resmi iman Katolik, lalu mengira sudah membantah ajaran Katolik.
Pertanyaan yang salah alamat
Ada juga pertanyaan:
Di mana Alkitab mengajarkan bahwa agar Kristus kudus, Maria harus terlebih dahulu bebas dari dosa asal sejak konsepsinya?
Jawabannya: tidak ada.
Karena Katolik memang tidak mengajarkan bahwa Kristus kudus karena Maria harus lebih dulu bebas dari dosa.
Kekudusan Kristus berasal dari diri-Nya sendiri sebagai Putra Allah.
Bukan dari Maria sebagai sumber kekudusan.
Yang diajarkan Katolik bukan:
Maria tanpa noda supaya Yesus bisa kudus.
Yang diajarkan Katolik adalah:
Maria tanpa noda karena Kristus menyelamatkannya secara paling sempurna, sejak awal keberadaannya, dalam rangka karya Inkarnasi.
Itu dua hal yang berbeda.
Kalau pertanyaannya sudah salah rumus, jawabannya juga akan salah sasaran.
Jangan geser topik
Biasanya setelah poin seperti ini dijawab, arah diskusi akan digeser ke topik lain: kecharitomene, bahasa Yunani Lukas 1, Immaculate Conception, atau silsilah Lukas 3.
Silakan dibahas.
Tetapi jangan dipakai untuk menghindari poin utama.
Poinnya tetap sama:
lebih seringnya gelar “Anak Daud” muncul dalam Alkitab tidak membuktikan bahwa fakta Inkarnasi melalui Maria boleh dikecilkan.
Kalau poin ini belum dibantah, pindah topik bukan jawaban.
Itu hanya pengalihan.
Jadi
Kalau sedang bicara “Anak Daud”, itu soal gelar Mesianik.
Kalau sedang bicara “lahir dari Maria”, itu soal fakta Inkarnasi.
Kalau sedang bicara Immaculate Conception, itu topik Mariologi yang berbeda dan harus dibahas dengan rumusan yang benar, bukan dengan karikatur yang berbeda dari ajaran resmi iman Katolik.
Maka argumen berdasarkan hitungan kata, atau sola word count, tidak cukup kuat.
Alkitab tidak sedang membuat peringkat tokoh.
Alkitab sedang bersaksi tentang Kristus:
Raja yang dijanjikan kepada Daud.
Sang Firman yang menjadi manusia.
Lahir dari seorang perempuan.
Satu-satunya Juruselamat manusia.
Maka iman Kristen yang utuh adalah ini:
Yesus Kristus adalah Anak Daud yang dilahirkan oleh Maria.
Bukan iman yang dipotong oleh hitungan kata.
