Bayangkan seorang nelayan melempar jaring ke laut, menangkap segala jenis ikan tanpa memilih. Itulah gambaran Kerajaan Surga dalam Matius 13:47-50. Dalam Eksodus 40:16-21, 34-38, Allah hadir bersama umat-Nya melalui awan kemuliaan di tabernakel. Di kayu salib, Yesus berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Ketiga kisah ini mengajak kita—umat Katolik dan saudara Kristen non-Katolik—untuk merenung: Apakah iman kita hidup, menghasilkan kasih seperti yang Yesus ajarkan? Apakah kita menerima Dia sepenuhnya, termasuk dalam Ekaristi atau sabda-Nya?
Jaring Kasih Allah
Dalam Matius 13:47-50, Yesus menggambarkan Kerajaan Surga seperti jaring yang menangkap segala jenis ikan—baik yang baik maupun yang buruk. Jaring ini adalah kasih Allah yang merangkul semua orang: orang berdosa, orang saleh, bahkan mereka yang ragu atau menolak Kristus. Gereja adalah jaring itu, tempat kita mendengar Injil dan dipanggil untuk bertobat.
Tapi, Yesus mengingatkan bahwa di akhir zaman, ikan yang baik—mereka yang hidup sesuai kehendak Allah—akan diselamatkan, sementara yang buruk akan dibuang. Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku” (Matius 7:21). Yakobus menambahkan, “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:17). Berada di jaring adalah anugerah, tapi kita harus menunjukkan iman yang hidup dengan kasih dan ketaatan.
Yesus berdoa untuk pengampunan di kayu salib, bahkan bagi mereka yang menyalibkan-Nya—prajurit Romawi dan kerumunan yang mungkin tidak mengenal-Nya. Ini menunjukkan bahwa kasih Allah begitu luas, mengundang kita semua untuk bertobat, termasuk saat kita ragu atau tersesat.
Contoh: Bayangkan Ana, seorang ibu yang sibuk. Kita mungkin seperti Ana, yang rajin ke gereja tapi sering kesal dengan tetangga. Bacaan Yakobus menginspirasinya untuk menunjukkan iman yang hidup dengan mengampuni tetangganya dan membantu kebutuhannya, meski sulit.
Allah Hadir: Dari Tabernakel ke Ekaristi
Dalam Eksodus 40:16-21, 34-38, Allah hadir di tengah umat Israel melalui tabernakel. Musa dengan setia mendirikan Kemah Suci, dan awan kemuliaan turun, menunjukkan bahwa Allah selalu bersama umat-Nya, memimpin mereka di padang gurun.
Hari ini, Allah hadir melalui Ekaristi—Tubuh dan Darah Kristus. Yesus berkata, “Akulah roti hidup… Daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman” (Yohanes 6:51, 55). Bagi umat Katolik, Ekaristi adalah kehadiran nyata Kristus, seperti awan kemuliaan bagi Israel. Namun, dalam Yohanes 6:66, banyak murid meninggalkan Yesus karena ajaran ini terasa “terlalu sulit.”
Doa Yesus di kayu salib menunjukkan kasih-Nya yang mengampuni, bahkan bagi mereka yang menolak-Nya. Ekaristi adalah undangan untuk kita bertemu Kristus dan menerima pengampunan-Nya. Paulus mengingatkan, kita “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik” (Efesus 2:10). Menerima Ekaristi harus diiringi dengan hidup yang penuh kasih, atau iman kita menjadi kosong.
Contoh: Lukas, seorang pekerja kantoran, merasa Ekaristi hanyalah ritual mingguan. Kita mungkin seperti Lukas, yang setelah merenungkan bacaan ini, mulai mempersiapkan hati melalui doa dan membantu rekan kerja, menjadikan iman kita lebih hidup.
Sola Fide dan Iman yang Berbuah
Bagi saudara Kristen non-Katolik, khususnya dari tradisi Protestan, Sola Fide—hanya oleh iman—adalah inti iman. Mereka percaya, seperti dalam Efesus 2:8-9, bahwa “oleh kasih karunia kamu diselamatkan karena iman… bukan hasil pekerjaanmu.” Doktrin ini lahir dari Reformasi untuk menolak praktik seperti indulgensi, yang tampak seperti “membeli” keselamatan. Namun, ayat berikutnya mengatakan bahwa kita “diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik” (Efesus 2:10). Paulus menambahkan, yang penting adalah “iman yang bekerja melalui kasih” (Galatia 5:6).
Sola Fide dan ajaran Katolik tentang iman yang hidup tidak bertentangan. Yakobus bertanya, “Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2:14). Penolakan Ekaristi oleh beberapa saudara Protestan, seperti murid-murid di Yohanes 6, mungkin karena sulit menerima misteri kehadiran Kristus. Namun, doa Yesus di kayu salib mengundang kita semua untuk membuka hati terhadap sabda-Nya, termasuk ajaran tentang Ekaristi.
Contoh: David, seorang Protestan, awalnya melihat Ekaristi hanya sebagai simbol. Kita mungkin seperti David, yang setelah berdialog dengan teman Katolik dan membaca Yohanes 6, mulai merenungkan apakah iman kita bisa diperkaya dengan memahami kehadiran Kristus lebih dalam.
Panggilan untuk Iman yang Hidup
Kita semua—Katolik dan saudara Kristen non-Katolik—berada dalam jaring kasih Allah. Tapi, seperti Matius 7:21-23 peringatkan, sekadar mengaku “Tuhan, Tuhan!” tidak cukup. Yesus mencari mereka yang melakukan kehendak Bapa. Yakobus menegaskan, “Manusia dibenarkan oleh perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya oleh iman” (Yakobus 2:24). Keselamatan adalah anugerah (Efesus 2:8-9), tetapi anugerah itu mengajak kita hidup dalam kasih (Galatia 5:6).
Bagi umat Katolik, ini berarti kita mendekati Ekaristi dengan hati yang siap melalui Sakramen Rekonsiliasi dan menunjukkan kasih dalam hidup sehari-hari. Bagi saudara Kristen non-Katolik, ini adalah undangan untuk kita mendalami Yohanes 6 dan bertanya: Apakah iman kita berbuah dalam kasih? Doa Yesus di kayu salib menunjukkan bahwa rahmat-Nya terbuka bagi kita semua, tetapi kita harus menanggapi dengan iman yang hidup.
Tantangan untuk Kita
Bayangkan kita sebagai ikan dalam jaring kasih Allah. Apakah kita akan menjadi ikan yang baik, yang hidup dengan iman yang penuh kasih? Yesus berdoa untuk pengampunan bagi algojo-Nya, menunjukkan bahwa tidak ada yang terlalu jauh dari rahmat-Nya. Ekaristi, bagi umat Katolik, adalah cara nyata untuk kita bertemu Kristus. Bagi saudara Kristen non-Katolik, sabda Yesus adalah undangan untuk kita mendekat kepada-Nya.
Seperti Petrus yang berkata, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yohanes 6:68), mari kita memilih ketaatan kepada Kristus. Cobalah dua langkah kecil ini:
- Berdoa untuk seseorang yang sulit kita ampuni, seperti Yesus di kayu salib.
- Lakukan satu tindakan kasih hari ini, seperti membantu tetangga atau mendengarkan teman, untuk menunjukkan iman kita yang hidup.
Refleksi untuk Kita:
- Apakah iman kita menghasilkan kasih, seperti yang Yakobus dan Paulus ajarkan?
- Bagaimana doa Yesus di kayu salib menginspirasikan kita untuk mengampuni orang lain?
- Apakah ada ajaran Kristus, seperti Ekaristi, yang menantang kita? Bagaimana kita akan menanggapinya dengan iman yang hidup?
Marilah kita menjadi “ikan yang baik” dalam jaring kasih Allah, dipimpin oleh kehadiran-Nya menuju hidup kekal!
