
Saat kita menapaki perjalanan 40 hari Prapaskah, ada satu pertanyaan mendasar yang sering terlupakan di tengah ritual puasa dan pantang kita: Siapakah sebenarnya yang menderita di kayu salib itu?
Jawabannya tampak sederhana: Yesus Kristus. Tapi tunggu sejenak.
Jika Yesus hanyalah seorang manusia biasa—guru moral yang luar biasa, nabi yang hebat, atau bahkan orang kudus terbesar sekalipun—maka sengsara dan kematian-Nya, meskipun mengharukan, tidaklah berbeda secara mendasar dari kematian para martir lainnya. Bagaimana mungkin pengorbanan satu orang dapat menebus dosa-dosa seluruh umat manusia sepanjang masa?
Dilema yang Mengubah Segalanya
Inilah dilema yang dihadapi oleh C.S. Lewis dan banyak pemikir lain: Yesus mengklaim diri-Nya setara dengan Allah. Ia berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” dan “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Ia mengampuni dosa-dosa—sesuatu yang hanya Allah yang berhak melakukannya.
Jadi pilihan kita hanya tiga:
- Ia adalah pendusta besar (dan bukan guru moral yang baik)
- Ia adalah orang gila yang berkhayal (dan bukan orang bijak)
- Ia adalah siapa yang Ia klaim: Allah yang menjelma
Tak ada ruang untuk “guru moral yang baik namun bukan Allah.” Itu bukan pilihan yang logis.
Kasih Tak Terhingga yang Tergantung di Salib
Di masa Prapaskah ini, kita dihadapkan pada realitas mengejutkan: Allah sendiri yang tergantung di kayu salib.
Bayangkan: Pencipta semesta, Yang Tak Terbatas, Yang Mahakuasa, memilih untuk dikurung dalam batasan tubuh manusia, mengalami rasa lapar, lelah, godaan, penolakan, dan akhirnya, penyiksaan dan kematian yang paling memalukan yang dikenal manusia zaman itu.
Ini bukan sekadar kisah pengorbanan; ini adalah pernyataan cinta paling radikal dalam sejarah. Sebagaimana Yohanes menulis: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…” (Yoh 3:16).
Kurban yang Tak Terbatas untuk Penghinaan yang Tak Terbatas
Dosa, dalam perspektif Katolik, bukanlah sekedar pelanggaran aturan. Dosa adalah penghinaan terhadap Allah yang tak terbatas. Bagaimana penghinaan terhadap yang tak terbatas dapat ditebus? Hanya dengan kurban yang juga tak terbatas nilainya.
Inilah mengapa keilahian Kristus sangat penting: hanya Allah sendiri yang dapat menawarkan penebusan yang sesuai dengan besarnya penghinaan dosa. Sebagai manusia, Kristus dapat mewakili kita; sebagai Allah, pengorbanan-Nya memiliki nilai tak terbatas.
Thomas Aquinas menjelaskan bahwa penebusan memiliki kesempurnaan tak terbatas karena martabat pribadi ilahi yang melakukannya. Suatu tindakan manusiawi biasa tak dapat mencapai efek universal dan kekal seperti ini.
Kenosis: Pengosongan Diri yang Mengubah Kita
Salah satu teks paling mendalam tentang keilahian Kristus datang dari Paulus dalam Filipi 2:5-11. Ia berbicara tentang Kristus yang “walaupun dalam rupa Allah… mengosongkan diri-Nya sendiri, dengan mengambil rupa seorang hamba.”
Istilah Yunaninya adalah kenosis—pengosongan diri. Allah yang tak terbatas membatasi diri dalam kemanusiaan. Ini bukan pengurangan keilahian, melainkan pengungkapan terdalamnya. Seperti yang dikatakan Paus Benediktus XVI: “Allah menyingkapkan diri-Nya sepenuhnya justru dalam kerendahan hati Putra-Nya.”
Selama Prapaskah, kita dipanggil untuk meniru kenosis Kristus ini—mengosongkan diri dari keegoisan, kesombongan, dan dosa-dosa kita.
Ketika Akal Bertanya, Iman Menjawab
“Tidak ada di mana dalam Alkitab Yesus berkata ‘Aku adalah Allah'”
Meskipun Yesus tidak menggunakan kata-kata persis “Aku adalah Allah”, Ia berulang kali membuat klaim yang hanya masuk akal jika Ia adalah Allah:
- “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30)
- “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9)
- Menggunakan nama Allah “AKU ADALAH” (Yoh 8:58)
- Menerima penyembahan (Mat 28:17)
- Mengampuni dosa (Mrk 2:5-7)
“Yesus adalah ‘Anak Allah’, bukan Allah itu sendiri”
Dalam pemahaman Yahudi, “anak” berbagi hakikat dan otoritas dengan ayahnya. Ketika Yesus menyebut diri-Nya “Anak Allah”, pendengar Yahudi-Nya paham bahwa Ia mengklaim kesetaraan dengan Allah—itulah mengapa mereka menuduh-Nya menghujat (Yoh 5:18).
“Konsep Tritunggal tidak masuk akal”
Tritunggal memang melampaui penalaran manusia, tetapi tidak bertentangan dengannya. Kita hidup dalam semesta yang penuh dengan analogi: air dapat eksis sebagai es, cair, dan uap—tiga wujud berbeda dari hakikat yang sama. Sementara tidak ada analogi yang sempurna, ini membantu kita memahami bagaimana Allah dapat menjadi tiga Pribadi namun satu hakikat.
Implikasi bagi Perjalanan Prapaskah Kita
Memahami siapa yang menderita di kayu salib mengubah secara radikal makna Prapaskah bagi kita:
- Pertobatan yang Lebih Dalam – Jika Allah sendiri rela menanggung konsekuensi dosa-dosa kita, betapa seriusnya dosa-dosa itu. Ini mengundang pertobatan yang lebih mendalam.
- Kasih yang Membara – Mengetahui bahwa Pencipta semesta mencintai kita hingga rela mati bagi kita mestinya membangkitkan respons kasih yang jauh melampaui kewajiban agama.
- Tindakan yang Bermakna – Puasa, doa, dan derma kita selama Prapaskah memperoleh makna baru: bukan sekadar latihan spiritual, tetapi respons cinta terhadap cinta Allah yang tak terbatas.
- Harapan yang Tak Tergoyahkan – Jika Allah rela pergi sejauh ini untuk menyelamatkan kita, kita dapat yakin bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita.
Penutup: Terus Bertanya
Saat kita melanjutkan perjalanan Prapaskah, marilah kita terus bertanya: “Siapakah yang menderita di kayu salib itu?” Jawabannya akan menginspirasi kekaguman, rasa syukur, dan cinta yang akan mengubah hidup kita—tidak hanya selama 40 hari, tetapi selamanya.
Seperti kata Santo Athanasius, “Allah menjadi manusia agar manusia dapat menjadi seperti Allah.” Hanya Allah yang menjadi manusia yang dapat mengangkat kita ke tingkat ilahi.
Semoga masa Prapaskah ini menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman kita tentang misteri iman ini—bahwa Dia yang menciptakan dunia, adalah Dia yang sama yang mati untuk menyelamatkannya.
“Allah, yang menciptakan alam semesta tanpa kesulitan, menderita penderitaan tak terbatas demi menyelamatkan kita. Kalau begitu, Ia tentu sangat menghargai martabat manusia.” — Blaise Pascal
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang Mahakudus, ajarilah aku untuk memahami salib-Mu bukan hanya dengan akal, tetapi dengan hati yang bersyukur. Semoga dalam perjalanan Prapaskah ini, aku semakin mengenal-Mu bukan sekadar sebagai tokoh sejarah atau guru moral, tetapi sebagai Allah yang telah menjadi manusia demi kasih-Nya kepadaku. Amin.
