Mencintai Tuhan, tetapi (Kadang) Membenci Gereja?

Share

Pernahkah Anda merasa lebih tenang berdoa sendirian di rumah daripada pergi ke gereja?

Beberapa hari lalu, saya membaca kisah yang membuat saya merasa tertampar. Seorang pemuda datang kepada seorang imam dengan mata yang menyimpan luka. Dia bercerita tentang masa kecilnya yang bahagia di komunitas gereja. Tempat itu dulu penuh tawa dan kehangatan. Tapi kemudian para pemimpin mulai bertengkar. Ego saling berbenturan. Komunitas yang dulu seperti keluarga itu akhirnya hancur.

“Romo,” kata pemuda itu, “saya merasa lebih dekat dengan Tuhan ketika berdoa sendiri di kamar. Di sana tenang dan damai. Tapi di gereja? Yang saya temukan hanya pertengkaran dan sakit hati.”

Membaca cerita ini, saya merasakan getaran yang tidak nyaman. Bukankah ini persis yang sering saya rasakan?

Mengapa Doa di Rumah Terasa Lebih Mudah?

Jujur saja, berdoa di rumah sendiri memang jauh lebih mudah. Tidak ada drama. Tidak ada si paling tahu segalanya yang selalu mengoreksi. Tidak ada si biang gosip yang lidahnya setajam silet. Tidak ada si sombong yang merasa paling suci. Tidak ada si egois yang selalu ingin menonjolkan diri. Hanya ada saya dan Tuhan dalam kesunyian yang damai.

Namun, pertanyaan yang diajukan sang imam dalam artikel itu menohok: apakah “mudah” selalu berarti “baik” untuk pertumbuhan rohani kita?

Imam yang sudah 45 tahun melayani itu berbagi pengalaman: kesulitan itu ternyata baik untuk kita. Seperti api yang memurnikan emas, kesulitan membuat kita tumbuh menjadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih bijaksana.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana saya bisa belajar mencintai orang lain jika saya tidak pernah bertemu dengan orang yang sulit dicintai? Kamar yang nyaman tidak akan pernah mengajarkan pelajaran itu.

Hidup yang Memang Tidak Sederhana

Situasi saya saat ini juga tidak mudah. Dengan bayi berumur 11 bulan, malam sering terganggu tangisan yang membangunkan dari tidur yang sudah kurang. Belum lagi harus membantu ibu merawat bapak yang berusia 80 tahun dan sedang berjuang melawan stroke. Setiap membantu orang tua adalah campuran rasa syukur masih bisa bersama mereka dan kekhawatiran tentang masa depan.

Dalam kondisi seperti ini, waktu untuk aktivitas gereja memang terbatas. Kelelahan sering mengalahkan semangat untuk terlibat dalam komunitas. Doa pribadi di rumah terasa lebih masuk akal—lebih fleksibel dengan jadwal keluarga yang tidak bisa diprediksi.

Gereja: Rumah Sakit, Bukan Galeri

Yang paling menyentuh dari artikel itu adalah penjelasan tentang hakikat gereja. Gereja bukan galeri yang memamerkan orang-orang suci yang sudah sempurna. Gereja lebih seperti rumah sakit—tempat untuk orang-orang yang sedang dalam proses penyembuhan.

Santo Paulus menyebut gereja sebagai Tubuh Kristus. Ini bukan ide manusia, tapi rencana Tuhan. Dan tubuh itu, seperti tubuh kita, tidak sempurna. Ada luka, kelemahan, dan masalah.

Saya mulai menyadari bahwa selama ini saya mengharapkan kesempurnaan di tempat yang memang dirancang untuk orang-orang tidak sempurna seperti saya—orang yang sedang berjuang dengan keterbatasan waktu, tenaga, dan berbagai tanggung jawab hidup.

Salib: Tidak Hanya ke Atas, Tapi Juga ke Samping

Analogi salib dalam artikel itu sangat mencerahkan. Ada garis vertikal yang menunjuk ke Tuhan—hubungan pribadi yang memang terasa mudah bagi banyak orang. Tapi salib tidak akan menjadi salib tanpa garis horizontal—hubungan dengan sesama.

Saya tidak bisa menjadi pengikut Yesus yang utuh hanya dengan fokus pada hubungan vertikal. Mencintai Tuhan secara penuh berarti juga belajar mencintai orang-orang di sekitar, termasuk yang sulit dicintai.

Mungkin inilah yang sedang saya alami: belajar mencintai dalam konteks terdekat—keluarga. Merawat bayi yang rewel, membantu orang tua yang rapuh, menghadapi keterbatasan—bukankah ini juga bentuk cinta horizontal?

Ironi yang Menyedihkan

Yang ironis, Yesus sendiri berdoa agar semua pengikut-Nya bersatu. Tapi lihat kenyataan hari ini: ribuan denominasi Kristen yang sering tidak bisa akur hanya karena beda cara ibadah atau pandangan kecil.

Saya sadar turut berkontribusi pada perpecahan itu dengan memilih “menyendiri” daripada terlibat dalam dinamika komunitas yang rumit. Meski memang ada alasan praktis di balik pilihan itu.

Tiga Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan

Artikel itu memberikan tiga kunci praktis:

Pertama, ingat bahwa kita adalah keluarga, bukan sekadar organisasi. Sebelum terjebak dalam perdebatan struktur atau program, ingatlah esensi kita: satu keluarga dalam Kristus.

Kedua, jangan terlalu serius dengan diri sendiri. Kerajaan Tuhan tidak tergantung pada ide cemerlang saya. Semuanya bergantung pada Yesus.

Ketiga, biarkan pintu untuk berbaikan selalu terbuka. Meski harus berpisah jalan, jangan sampai membakar jembatan.

Menemukan Keseimbangan

Membaca artikel ini membuat saya sadar: meninggalkan gereja karena tidak sempurna sama seperti meninggalkan rumah sakit karena penuh orang sakit. Justru di sanalah tempat saya seharusnya berada—untuk sembuh bersama, tumbuh bersama, dan belajar mencintai.

Tapi saya juga menyadari bahwa komitmen ini harus realistis dengan hidup yang saya jalani. Mungkin keterlibatan saya tidak bisa seintensif dulu, tapi bukan berarti harus menutup pintu sama sekali. Bahkan dengan keterbatasan waktu dan tenaga, masih ada cara untuk terlibat sesuai kemampuan.

Zona nyaman di rumah memang menawarkan kedamaian semu. Tapi pertumbuhan sejati terjadi ketika berani menghadapi kesulitan—baik dalam keluarga maupun komunitas gereja. Belajar sabar dengan orang yang berbeda, tetap berkomitmen menjadi satu tubuh dalam Kristus, meski energi sudah terkuras untuk hal-hal mendesak.

Ini bukan tentang mencari susah. Ini tentang memahami bahwa cinta sejati diuji melalui tantangan nyata—bukan dalam kenyamanan yang terisolasi. Dan tantangan itu tidak selalu harus dicari jauh. Kadang, sudah tersedia dalam keseharian yang paling dekat dengan kita.