Perumpamaan Bendahara yang Tidak Jujur (Lukas 16:1-13) sering bikin orang geleng-geleng kepala. Bagaimana Yesus, yang adalah Kebenaran itu sendiri, seolah memuji orang curang? Apakah ini kontradiksi? Gereja Katolik, lewat tradisi teologis berabad-abad, jawab: Bukan! Ini seperti “shock therapy” Yesus untuk guncang kita dari kemalasan rohani. Bayangkan Yesus bilang, “Kalau orang duniawi saja pintar rencanakan masa depan fana mereka, kenapa kalian nggak lebih pintar rencanakan surga?”
Ini bukan dukungan moral relativis, tapi undangan transendensi: Gunakan duniawi untuk hal ilahi. KGK (2401-2463) ajarkan bahwa kekayaan adalah titipan Tuhan untuk kebaikan bersama, bukan untuk curang atau egois.
Teks Perumpamaan: Ringkasan dan Konteks
Mari baca teks asli dari Injil Lukas 16:1-13:
Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.
Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?
Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Konteks: Yesus cerita ini ke murid-murid setelah perumpamaan Anak Hilang (Lukas 15), fokus pada penatalayanan bijak. Footnote USCCB jelaskan: Bendahara sebenarnya kurangi komisi usury-nya sendiri (bunga haram di budaya Yahudi), bukan curang tuan. Ini ajarkan gunakan barang material bijak menghadapi “krisis” (akhir zaman atau kematian).
Gereja Katolik tegas: Yesus tidak setuju ketidakjujuran. KGK 2408-2409 katakan pencurian, penggelapan, dan ketidakadilan adalah dosa melawan perintah ke-7 (“Jangan mencuri”).
Pujian tuan (bukan Allah!) adalah dari perspektif duniawi, bukan moral ilahi.
- Prinsip hermeneutis: Tidak semua detail perumpamaan adalah teladan moral. Yesus pakai kontras: Bendahara dan tuannya adalah “anak dunia,” bukan panutan. Yang dipuji: Kecerdikan (Yunani: phronimôs) dalam antisipasi masa depan, bukan curangnya.
- Komentar santo: St. Ambrosius (dalam Expositio Evangelii secundum Lucam) bilang: “Tuhan tidak memuji ketidakjujurannya, melainkan kebijaksanaannya dalam memikirkan masa depan. Kita harus gunakan harta duniawi untuk siapkan tempat di surga.” St. Thomas Aquinas (Catena Aurea) tambah: Anak dunia wiser dalam urusan mereka, jadi anak terang harus wiser dalam urusan Tuhan.
Inti: “Mamon yang tidak jujur” (kekayaan menipu) harus digunakan untuk sedekah, bukan ditimbun. Ini “investasi rohani” untuk surga.
Analisis Apologetik yang Tajam: Menjawab Keberatan
Banyak kritikus bilang, “Yesus promosi curang!” Jawaban Gereja logis dan tajam:
- Keberatan 1: Mengapa pakai ilustrasi jahat? Jawab: Yesus sering pakai paradoks retoris, seperti “cerdik seperti ular” (Matius 10:16) atau Hakim Tidak Adil (Lukas 18). Ini teknik a fortiori: Kalau yang buruk bisa begini, apalagi yang baik! Bukan endorsement dosa, tapi gugah malu kita yang kurang gigih.
- Keberatan 2: Relativisme moral? Jawab: Tidak! Yesus tutup dengan peringatan: “Setia dalam kecil, setia dalam besar” (16:10) dan “Tidak bisa abdi dua tuan” (16:13). Ini tegas anti-curang. KGK 2424 katakan kekayaan bisa jadi godaan, tapi harus untuk keadilan sosial.
- Keberatan 3: Boleh pakai ‘Mamon tidak jujur’? Jawab: “Tidak jujur” gambarkan sifat kekayaan yang bisa menyesatkan, bukan izinkan korupsi. Gunakan untuk tolong sesama (amal), seperti bendahara “buat teman” – tapi secara benar.
Apologetik ini bukti konsistensi ajaran Kristus: Bukan kontradiksi, tapi kedalaman.
Pesan Inti dan Implikasi Praktis bagi Orang Katolik
- Gunakan harta untuk tujuan surgawi: Kekayaan titipan Tuhan (KGK 2401). Bagikan untuk miskin, dukung Gereja – ini “buat teman” di surga.
- Belajar kecerdikan orang dunia: Kalau investor duniawi jaga portofolio malam-malam, kenapa kita malas doa atau pelayanan?
- Kesetiaan sehari-hari: Jujur dalam kecil (uang receh) syarat untuk rahmat besar. Anti-materialisme: Jangan jadi budak Mamon.
Kesimpulan: Kebijaksanaan dalam Paradoks
Yesus tidak mendukung ketidakjujuran – Dia pakai contoh ekstrem untuk ajak kita cerdas rohani. Dalam ajaran Gereja, ini panggilan stewardship: Kelola titipan Tuhan bijak demi keselamatan. Seperti kata Yesus, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan Mamon” – pilih Allah!
Refleksi Ringan: Bayangkan kita seperti bendahara: Hidup ini “waktu singkat” sebelum “pemecatan” (kematian). Sudahkah kita “investasi” rohani hari ini? Coba mulai dengan sedekah kecil – itu tiket ke “kemah kekal.” Kalau orang dunia lihai untuk duit, kita harus lebih lihai untuk surga!
