Dari Gunung ke Gunung: Amanat Agung Tidak Berhenti pada Baptisan

Share

Baptisan membuka jalan pemuridan. Pengajaran menumbuhkannya.

Dua gunung, satu bingkai

Matius membuka dan menutup pelayanan Yesus di tempat yang sama: gunung. Dalam tradisi Ibrani, gunung adalah tempat hukum diberikan dan otoritas ilahi dinyatakan. Musa naik, rakyat dilarang mendekat, turun membawa loh batu: “Demikian firman Tuhan.” Yesus naik, murid diundang duduk dekat, lalu berkata: “Tetapi Aku berkata kepadamu.”

Yesus di sini tidak sedang membatalkan Musa. Ia sendiri berkata: “Aku datang bukan untuk meniadakan, melainkan untuk menggenapi.” Tetapi genap di sini bukan sekadar melanjutkan. Yesus tampil sebagai Musa Baru yang berotoritas ilahi: bukan penafsir Taurat, melainkan Sang Pemberi Taurat sendiri. Matius 5–7 adalah konstitusi Kerajaan Allah, diberikan oleh Ia yang memiliki kuasa untuk memberikannya.

Matius menutup bagian ini dengan kalimat yang patut diperhatikan: “Mereka takjub, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa.” (Mat. 7:29). Kata Yunani yang dipakai adalah exousia: kuasa yang sah, otoritas yang melekat pada diri seseorang. Orang banyak merasakannya, meskipun mereka belum sepenuhnya memahaminya.

Otoritas agama pada zaman itu memahami persis apa yang sedang terjadi. Yesus tidak menawarkan tafsiran baru. Ia menuntut posisi yang hanya layak bagi Allah sendiri. Klaim itu, ditambah konflik yang terus menajam dengan para pemimpin agama dan bayang-bayang ancaman politik di hadapan Roma, membuat jalan menuju salib menjadi tak terelakkan.

Di gunung terakhir, setelah kebangkitan, Yesus berdiri lagi dengan kuasa yang kini dinyatakan penuh: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Kata yang sama: exousia. Bingkai yang disengaja Matius ini bukan hiasan. Ia adalah kunci untuk memahami mengapa Amanat Agung tidak bisa dibaca terlepas dari gunung pertama.

Empat kata kerja, satu yang paling sulit

Amanat Agung memuat empat kata kerja: pergi, jadikan murid, baptis, dan ajar. Keempatnya perintah, bukan pilihan.

Gereja umumnya tidak kekurangan semangat untuk pergi: penjangkauan, penginjilan, program-program besar. Baptisan pun tercatat dengan bangga dalam laporan tahunan. Tetapi sesudah seseorang dibaptis, apa yang terjadi? Ia masuk ke dalam komunitas yang isinya ibadah mingguan, tanpa pernah sungguh-sungguh dibawa masuk ke dalam pengajaran Injil yang mendalam.

Pengajaran sering menjadi bagian yang paling sulit dan paling memakan waktu. Karena itu banyak komunitas lebih mudah menghitung jumlah peserta, baptisan, dan acara daripada mengukur terbentuknya murid yang dewasa dalam iman.

Ketika pembentukan murid sering terabaikan, jemaat akan mudah goyah saat berhadapan dengan ajaran yang menyesatkan, penipuan berkedok rohani, atau arus ideologi yang menunggangi identitas Kristen. Khotbah dua puluh menit setiap Minggu, lalu ditutup berkat, tidak cukup untuk membangun ketahanan iman semacam itu.

Mengajar dengan silabus yang sudah ada

Yesus tidak menyuruh Gereja mengajar sembarang hal. Ia berkata: “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Kapan Yesus paling banyak memerintahkan? Di gunung. Maka silabus pengajaran itu sudah tersedia di Matius 5–7.

  • Cara menghadapi musuh: mengasihi, bukan membalas.
  • Cara memegang uang: jangan menimbun harta di bumi.
  • Cara menjaga kemurnian: dimulai dari cara memandang, bukan hanya perbuatan.
  • Cara berbicara jujur: ya katakan ya, tidak katakan tidak.
  • Cara berdoa dan berpuasa: tanpa topeng, tanpa pamer.

Ini bukan daftar nilai rohani yang abstrak. Ini adalah cara hidup yang konkret dan bisa diperiksa dalam keseharian. Gereja dipanggil untuk mengajarkan semuanya, bukan hanya bagian yang terasa nyaman atau populer.

Tujuannya bukan pengetahuan, melainkan ketaatan

Perhatikan kata terakhir dari perintah Yesus: “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu.” Bukan sekadar mengetahui. Bukan sekadar memahami. Melakukan.

Yesus menutup Matius 7 dengan gambaran yang tajam. Orang yang mendengar ajaran-Nya tetapi tidak melakukannya disamakan dengan orang yang membangun rumah di atas pasir: tampak kokoh, tetapi runtuh ketika badai datang. Murid sejati bukan pendengar yang mengagumi khotbah. Ia adalah pelaku yang membangun hidupnya di atas batu.

Ini berarti tujuan pengajaran bukan menghasilkan jemaat yang tahu banyak tentang Yesus, melainkan jemaat yang hidup menurut ajaran Yesus. Gereja yang puas ketika jemaatnya pandai menjawab pertanyaan Alkitab, tetapi tidak membentuk mereka untuk hidup sesuai Injil, sedang berhenti di tengah jalan.

Pelajaran dari dua perjalanan

Musa turun dari gunung membawa hukum. Namun generasi yang menerima hukum itu gagal masuk ke Tanah Perjanjian karena ketidakpercayaan dan pemberontakan mereka. Hukum telah diberikan, tetapi hati mereka tidak dibentuk untuk hidup seturut kehendak Allah.

Yesus membentuk sebelas murid selama tiga tahun: mengajar setiap hari, mengoreksi cara berpikir mereka, menjawab pertanyaan, mendampingi mereka berhadapan dengan kenyataan. Hasilnya adalah sekelompok kecil orang yang memahami Injil cukup dalam untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Perbedannya bukan pada jumlah atau semangat. Perbedaannya ada pada ada atau tidaknya pembentukan. Gereja yang rajin berekspansi tetapi mengabaikan pembentukan murid pada akhirnya akan menghadapi kekosongan yang sama. Kekosongan itu tidak akan tetap kosong: ia akan diisi oleh ideologi, figur karismatik tanpa landasan, atau bentuk-bentuk Kekristenan yang hanya meminjam nama Kristus.

Gereja mengajar dengan seluruh hidupnya

Sejak awal, Gereja memahami bahwa pengajaran tidak hanya terjadi melalui kata-kata. Bagian ini menghindarkan kita dari kesan bahwa pengajaran hanya berarti kelas, ceramah, atau transfer informasi. Justru di sini artikel menjadi lebih kaya secara biblis dan historis:

  • Injil → diajarkan
  • Liturgi → dirayakan
  • Sakramen → dihidupi
  • Komunitas → dialami
  • Para kudus → diteladani

Pendekatan ini sangat dekat dengan cara Gereja perdana membentuk murid. Murid tidak terbentuk hanya dengan mendengar kebenaran, tetapi dengan hidup di dalamnya, bersama orang-orang yang juga sedang belajar hidup di dalamnya

Amanat Agung dengan demikian bukan hanya tugas pengkhotbah atau katekis. Ia adalah panggilan bagi seluruh Gereja untuk menjadi komunitas yang membentuk, bukan sekadar komunitas yang mengumpulkan.

Kuasa yang sama, perintah yang sama

Janji Yesus di akhir Amanat Agung, “Aku menyertai kamu senantiasa,” melekat pada seluruh perintah yang mendahuluinya. Kehadiran itu bukan jaminan otomatis. Ia menyertai Gereja yang sungguh-sungguh pergi, memuridi, membaptis, dan mengajar hingga muridnya hidup sesuai Injil.

Sebelum bertanya mengapa Gereja tidak berpengaruh pada bangsa, ada baiknya bertanya lebih dulu: apakah yang terjadi setiap Minggu sungguh-sungguh membentuk murid, atau hanya menyapa jemaat lalu memulangkannya?

Di gunung pertama orang banyak takjub karena Yesus mengajar dengan kuasa. Di gunung terakhir Yesus menyatakan bahwa segala kuasa telah diberikan kepada-Nya. Di antara dua gunung itu terbentang seluruh Injil Matius.

Karena itu Amanat Agung bukan sekadar perintah untuk pergi. Amanat Agung adalah perintah untuk meneruskan pengajaran Sang Raja yang memiliki segala kuasa. Jangan berhenti pada pergi. Jangan berhenti pada baptis. Jangan berhenti pada pengetahuan. Amanat Agung selesai ketika murid belajar melakukan segala yang diperintahkan Kristus, lalu mengajarkannya lagi kepada generasi berikutnya.