Tuhan Tidak Menunggu Hidup Kita Rapi

Share

Tulisan ini memang agak terlambat ditulis. Namun rasanya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, terlebih karena 11 Januari 2026 baru saja kita rayakan sebagai Pesta Pembaptisan Tuhan. Beberapa hari boleh lewat, tetapi maknanya tidak pernah basi.

Dalam tradisi biblis, air bukan sekadar simbol ketenangan. Air sering dipahami sebagai wilayah kekacauan yang tak bisa diprediksi dan tak bisa dikendalikan. Bukan tempat orang mencari kenyamanan, melainkan sesuatu yang selalu menuntut kewaspadaan. Sejak kisah-kisah awal Kitab Suci, air digambarkan sebagai kedalaman yang gelap, sesuatu yang belum tertata dan mudah berubah dari sumber kehidupan menjadi ancaman.

Makna ini terasa semakin dekat dengan pengalaman kita belakangan ini. Berbagai bencana alam yang berkaitan dengan air, seperti banjir, longsor, dan luapan sungai, terjadi di Sumatera dan di banyak daerah lainnya. Kita kembali diingatkan bahwa air memang tidak pernah sepenuhnya jinak. Ia bisa menghidupi, tetapi juga bisa menghancurkan dalam sekejap. Baik dalam simbol iman maupun dalam kenyataan sehari-hari, air selalu membawa sisi yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya.

Dan justru ke dalam realitas seperti itulah Yesus masuk.

Ia tidak berdiri di pinggir menunggu airnya tenang.
Ia masuk apa adanya.

Pesannya sederhana, namun cukup mengusik logika religius kita. Tuhan tidak menunggu kondisi ideal. Yang ideal itu biasanya hanya hidup di rencana kita, bukan di kenyataan.

Kita sering memperlakukan Tuhan seperti tamu kehormatan yang hanya boleh datang kalau rumah sudah rapi. Doa pun berubah menjadi undangan bersyarat. “Tuhan, masuklah… tapi nanti ya, kalau saya sudah lebih baik.” Seolah-olah Tuhan datang membawa buku penilaian, bukan belas kasih. Padahal kalau hidup harus rapi dulu, mungkin Tuhan akan keburu bosan menunggu.

Pesta Pembaptisan Tuhan membongkar ilusi itu. Yesus tidak masuk ke air karena airnya sudah suci, tetapi karena manusia yang datang ke sana sedang bergumul dan mencari pemurnian. Ia tidak datang setelah semuanya beres, melainkan justru karena belum beres. Injil tidak pernah menunggu momen yang sempurna. Ia selalu hadir di saat-saat yang rawan.

Ironisnya, kita bisa rajin dalam ibadah namun tetap menghindari kejujuran batin. Kita sibuk merapikan tampilan rohani, sementara batin penuh “kabel kusut”. Kita ingin terlihat kuat, padahal lelah. Terlihat tenang, padahal panik. Dan entah mengapa, kita mengira Tuhan lebih nyaman dengan versi kita yang sudah “jadi”, rapi, dan minim masalah.

Di titik ini, refleksi ini mulai berbalik menjadi otokritik. Setidaknya bagi saya sendiri. Apakah selama ini ada keengganan yang saya simpan rapi? Keengganan untuk terlibat lebih jauh karena takut repot, takut ribet, takut tidak sesuai rencana. Alasan-alasan itu sering terdengar sangat masuk akal, bahkan rohani. Padahal kalau diperas, intinya sederhana saja. Saya ingin pelayanan yang aman, bersih, dan tidak terlalu mengganggu kenyamanan.

Masalahnya, kehidupan sosial, pelayanan paroki, dan kerja-kerja kemanusiaan jarang sekali menawarkan itu. Orang yang dilayani sering rumit. Masalah lingkungan sering kotor. Dinamika gereja sering tidak ideal. Dan tanpa sadar kita berharap pelayanan itu seperti kolam renang, bukan sungai liar. Ada pembatas, ada lifeguard, dan kalau capek bisa naik ke pinggir.

Sayangnya, Injil tidak pernah menjanjikan kolam renang.

Baptisan Tuhan justru menunjukkan arah sebaliknya. Tuhan tidak menunggu airnya bersih. Ia masuk. Dan pertanyaannya pelan-pelan diarahkan ke kita semua. Apakah kita mau ikut masuk, atau tetap berdiri di pinggir sambil terus berkata, “Nanti saja, kalau sudah lebih siap”?

Padahal iman bukan soal performa.
Iman adalah kerelaan.

Kerelaan untuk memberi Tuhan akses ke bagian hidup yang paling tidak ingin kita buka. Kerelaan untuk hadir di tengah situasi yang belum rapi. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyatakan solidaritas dan menebus dari dalam. Tuhan tidak bekerja dari luar pagar. Ia masuk ke pusat kekacauan itu sendiri.

Yesus masuk ke air keruh bukan sebagai korban, melainkan sebagai Penebus. Pola ini tidak berubah sampai hari ini. Tuhan tidak menunggu hidup kita stabil, matang, atau sempurna. Ia juga tidak menunggu pelayanan kita bebas masalah.

Tuhan tidak menunggu hidup kita rapi. Ia menunggu pintu dibuka.

Dan sering kali, yang paling berat bukan membuka pintu untuk Tuhan,
melainkan berhenti berharap bahwa segala sesuatu harus rapi dulu sebelum kita berani melangkah.