Ketika Penjelasan Sederhana Membuka Kesalahpahaman

Share

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah video yang dibuat oleh seorang non-Katolik. Ia berbicara tentang sesuatu yang sangat familiar bagi umat Katolik: doa Rosario.

Yang menarik perhatian saya bukan hanya apa yang ia katakan tentang Rosario, tetapi bagaimana ia sampai pada pemahaman tersebut.

Sebelumnya, ia memiliki pemahaman yang keliru tentang Rosario. Ia mengira manik-manik Rosario mungkin memiliki semacam kekuatan khusus atau unsur magis. Ia juga melihat umat Katolik mengulang-ulang doa yang sama dan tidak memahami apa yang sebenarnya sedang dilakukan.

Kemudian seorang temannya yang Katolik menjelaskan kepadanya secara sederhana.

Manik-manik Rosario bukan benda magis.

Manik-manik itu membantu seseorang mengikuti urutan doa.

Dan pengulangan doa bukanlah mantra kosong.

Sambil mendaraskan doa, umat Katolik merenungkan misteri-misteri kehidupan Yesus Kristus.

Penjelasan sederhana itu membuatnya melihat Rosario secara berbeda.

Di sinilah saya kemudian berpikir: berapa banyak kesalahpahaman terhadap iman Katolik yang sebenarnya lahir bukan karena orang tersebut telah memahami ajaran Katolik lalu menolaknya, melainkan karena ia sejak awal memahami sesuatu yang bukan ajaran Katolik?

Ini hal yang sering terjadi.

Seseorang melihat umat Katolik menggunakan Rosario, lalu menyimpulkan bahwa umat Katolik menyembah manik-manik.

Seseorang melihat umat Katolik mengulang doa, lalu menyimpulkan bahwa itu adalah mantra.

Seseorang melihat umat Katolik menghormati Maria, lalu menyimpulkan bahwa umat Katolik menyembah Maria.

Yang dilihat adalah praktik lahiriahnya. Tetapi makna di balik praktik tersebut tidak pernah benar-benar dipahami.

Akibatnya, yang ditolak sering kali bukan iman Katolik yang sebenarnya, melainkan gambaran tentang Katolik yang dibangun dari kesalahpahaman.

Bagi saya, video tersebut menunjukkan betapa pentingnya penjelasan yang sederhana.

Teman Katoliknya tidak perlu memulai dengan perdebatan teologis yang rumit. Ia cukup menjelaskan fungsi manik-manik Rosario dan apa yang sebenarnya dilakukan oleh umat Katolik ketika mendaraskan doa Rosario.

Pengulangan doa juga dijelaskan dengan sesuatu yang mudah dipahami.

Pemain basket mengulang tembakan yang sama berkali-kali.

Musisi mengulang tangga nada.

Manusia belajar banyak hal melalui pengulangan.

Pikiran kita juga mudah teralihkan. Ketika sedang berdoa, seseorang bisa tiba-tiba memikirkan pekerjaan, makanan, apakah pintu sudah dikunci, atau apakah setrika sudah dimatikan.

Struktur Rosario membantu seseorang kembali kepada doa dan permenungan.

Namun Rosario tentu tidak berhenti pada soal fokus.

Rosario adalah doa. Doa-doa yang didaraskan mengiringi permenungan atas misteri kehidupan Kristus. Manik-manik membantu umat mengikuti urutan doa, sementara misteri-misteri yang direnungkan membawa pikiran dan hati kepada karya keselamatan Kristus.

Bagi saya, di sinilah pelajaran pentingnya.

Kadang-kadang, kita terlalu cepat berdebat sebelum memastikan bahwa orang yang kita ajak berbicara benar-benar memahami apa yang kita percayai.

Kita langsung menjawab tuduhan, padahal tuduhan itu mungkin dibangun di atas pemahaman yang sejak awal keliru.

Kita langsung membela diri, padahal yang sebenarnya diperlukan hanyalah penjelasan sederhana.

Dan saya kira, inilah salah satu tugas umat Katolik.

Menjelaskan iman kita dengan baik.

Bukan memaksa orang lain untuk percaya.

Bukan memaksa seseorang untuk menyetujui semua yang kita yakini.

Bukan memaksa seseorang untuk menjadi Katolik.

Kita dapat menjelaskan.

Kita dapat memberikan alasan.

Kita dapat menunjukkan apa yang sebenarnya diajarkan dan dipercayai oleh Gereja.

Kita dapat menjawab keberatan dengan jujur dan hormat.

Tetapi setelah seseorang memahami, apakah ia menerima atau menolak, itu adalah tanggapannya sendiri.

Apakah ia setuju atau tidak, itu adalah kebebasannya.

Apakah ia ingin mempelajari Katolik lebih jauh, itu adalah pilihannya.

Apakah suatu hari ia merasa terpanggil untuk menjadi Katolik, itu bukan sesuatu yang dapat kita paksakan.

Iman tidak lahir dari pemaksaan.

Karena itu, umat Katolik tidak perlu merasa bahwa setiap percakapan harus berakhir dengan seseorang langsung menjadi Katolik.

Kadang-kadang, cukup jika seseorang yang sebelumnya memiliki pemahaman yang keliru akhirnya berkata:

“Selama ini saya ternyata tidak memahami apa yang sebenarnya dipercayai oleh umat Katolik.”

Itu sudah merupakan langkah penting.

Sebab seseorang tidak dapat membuat keputusan yang benar tentang sesuatu yang tidak ia pahami dengan benar.

Di sinilah saya melihat pentingnya apologetika.

Apologetika bukan sekadar memenangkan perdebatan.

Apologetika adalah memberikan pertanggungjawaban atas iman yang kita miliki.

Menjelaskan apa yang kita percaya.

Mengapa kita percaya.

Dan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja.

Kitab Suci sendiri mengingatkan kita untuk selalu siap memberikan pertanggungjawaban atas pengharapan yang ada dalam diri kita, tetapi melakukannya dengan lemah lembut dan hormat.

Mungkin, itulah yang saya pelajari dari video tersebut.

Kadang-kadang, orang tidak menolak iman Katolik yang sebenarnya.

Mereka menolak gambaran tentang Katolik yang tidak pernah diajarkan oleh Gereja.

Karena itu, sebelum berdebat, mungkin kita perlu bertanya:

“Apakah orang ini benar-benar memahami apa yang sedang ia kritik?”

Jika belum, maka tugas pertama kita bukan menyerang.

Tugas pertama kita adalah menjelaskan.

Dengan sederhana.

Dengan jernih.

Dengan sabar.

Dan dengan kasih.

Setelah itu, keputusan tetap berada pada setiap pribadi.

Kita tidak dipanggil untuk memaksa.

Kita dipanggil untuk menjadi saksi.

Kita tidak dapat memaksa seseorang untuk percaya, tetapi kita dapat memastikan bahwa ia tidak menolak sesuatu hanya karena ia salah memahami apa yang sebenarnya kita percayai.

Bagi saya, itulah pesan yang paling menarik dari video tersebut.

Satu penjelasan sederhana dari seorang Katolik membuat seorang non-Katolik melihat sebuah praktik Katolik dengan cara yang berbeda.

Bukan karena ia dipaksa.

Bukan karena ia kalah dalam debat.

Tetapi karena ia akhirnya memahami.

Dan sering kali, memahami adalah langkah pertama sebelum seseorang dapat mengambil keputusan secara jujur.

Selebihnya, biarlah setiap orang menjawab panggilan Tuhan dengan kebebasan hati nuraninya sendiri.

Tugas kita sederhana: hidupkan iman kita, pahami iman kita, dan jelaskan iman kita dengan benar.

Selebihnya bukan berada di tangan kita.