Bencana yang melanda Sibolga beberapa hari terakhir cepat diberi label: hujan ekstrem, durasi panjang, efek siklon. Itu benar—hujannya memang sangat lebat dan berlangsung berjam-jam, bahkan berhari-hari. Tapi pertanyaannya tidak boleh berhenti di situ.
Mengapa hujan sebesar itu begitu mudah meledak menjadi banjir bandang dan longsor?
Apakah ini murni karena siklon, atau karena hutan di hulu Tapanuli sudah terlalu lama dirusak—termasuk oleh operasi PT Toba Pulp Lestari (TPL), perusahaan industri pulp dengan konsesi hutan tanaman industri yang sangat luas di Tapanuli?
TPL menanam eucalyptus secara masif untuk bahan baku pulp. Untuk itu, hutan alam—termasuk hutan kemenyan dan daerah tangkapan air—diganti tanaman monokultur. Artinya: akar-akar kuat yang dulu menahan tanah dan menyerap air digantikan sistem yang jauh lebih rapuh. Dalam kondisi seperti ini, hujan ekstrem seperti kemarin wajar saja melonjak jadi banjir bandang dan longsor yang menghantam hilir seperti Sibolga.
Jadi masalahnya bukan sekadar “ada siklon”.
Masalahnya: kita membiarkan hulu kehilangan perisai ekologisnya, lalu pura-pura kaget ketika hilir tenggelam.
Siklon adalah pemicu.
Kerusakan hutan adalah alasan mengapa pemicu itu mematikan.
Laporan ini disusun untuk mengupas siapa yang mengambil keputusan di hulu, bagaimana TPL dan kebijakan negara ikut membentuk kerentanan itu, dan mengapa pada akhirnya Sibolga yang membayar harganya.
Link DeepResearch ChatGPT: https://chatgpt.com/s/dr_6929a46901f88191b6cb549fd174caf8
