Renungan Adven: Terang yang Datang, Terang yang Bertahan

Share

Dan Ingatan Iman yang Pernah Hilang

Pada 10 Desember 2025, Gereja sedang dalam menghayati Adven Minggu ke-2. Lilin kedua dinyalakan—tanda bahwa langkah kita menuju Natal semakin dekat. Dalam ritme liturgi yang sederhana ini, kita disadarkan bahwa terang sering kali datang perlahan: tidak meledak, tidak memaksa, tetapi tumbuh setahap demi setahap, menembus gelap yang menebal di sekitar kita.

Menariknya, di sekitar waktu ini, saudara-saudari Yahudi merayakan Hanukkah, pesta terangnya Israel. Dua tradisi yang berbeda, tetapi keduanya berbicara tentang cahaya yang mempertahankan diri di tengah malam dunia. Hanukkah mengenang bagaimana terang menorah bertahan delapan hari meski minyak hanya cukup untuk satu hari. Adven memperingati bagaimana Terang sejati sedang datang, meski dunia belum menyadarinya.

Namun di balik kesamaan makna itu, ada satu kenyataan yang patut direnungkan secara kritis.
Banyak umat Kristen modern tidak lagi mengenal Hanukkah—padahal Yesus sendiri hadir di dalamnya. Injil Yohanes mencatatnya dengan tenang:

“Tidak lama kemudian tibalah Hari Raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem. Ketika itu musim dingin dan Yesus berjalan-jalan di serambi Salomo.”
(Yohanes 10:22–23)

Hari Raya Pentahbisan Bait Allah—itulah Hanukkah.
Dan Yesus ada di sana.

Namun banyak tradisi Kristen tidak lagi memahami makna hari raya itu karena sejarahnya tercatat bukan dalam Taurat atau para nabi, melainkan dalam Kitab Makabe, kitab yang pernah diakui Gereja apostolik namun kemudian dihapus dari kanon oleh Reformasi. Akibatnya, satu lapisan penting dari dunia Yesus—lapisan yang menolong kita memahami identitas-Nya dan karya-Nya—menghilang dari kesadaran sebagian umat.

Inilah bagian “kritis” yang sering terlupakan:
ketika sebuah kitab hilang, sebuah ingatan pun ikut hilang.
Dan ketika ingatan hilang, pemahaman iman menjadi terpotong.

Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengingatkan bahwa iman Kristen tidak berdiri di ruang kosong. Ia bertumbuh dari sejarah panjang Israel—dari Perjanjian Lama, dari tradisi Yahudi, dari kisah para Makabe yang mempertaruhkan hidup demi mempertahankan Bait Allah. Jika ingatan itu terhapus, maka sebagian kedalaman makna Injil pun ikut memudar.

Di masa Adven ini, kita diajak menyadari kembali jalinan sejarah itu. Hanukkah—meski bukan bagian dari liturgi Gereja—mengajarkan bahwa terang yang kecil pun dapat bertahan ketika Tuhan menyertainya. Makabe mengingatkan bahwa kesetiaan sering lahir dari keberanian sederhana. Adven menunjukkan bahwa terang yang dinantikan itu bukan hanya bertahan, tetapi datang menghampiri.

Terang Hanukkah bertahan delapan hari;
Terang Natal bertahan selamanya.

Terang menorah menjawab kegelapan sebuah zaman;
Terang Kristus menjawab kegelapan seluruh dunia.

Renungan Adven kali ini mengajak kita untuk jujur:
Apa saja ingatan rohani dalam hidup kita yang telah hilang?
Bagian mana dari iman kita yang menjadi redup karena kita jarang menyentuh akar sejarahnya?

Sebab Tuhan tidak hanya menyinari masa depan; Ia juga menyembuhkan ingatan kita yang hilang.
Ia menuntun kita kembali kepada akar iman—agar terang yang kita sambut pada Natal bukan sekadar lampu-lampu indah, tetapi terang yang benar-benar mengubah hidup.

Dan seperti lilin Adven yang menyala perlahan, mungkin terang itu sebenarnya sudah bekerja, bahkan ketika kita tidak menyadarinya.