Tentang debat Jesuit dan Dominikan, lelucon antar-ordo, dan perbedaan antara humor internal yang sehat dengan karikatur yang tidak jujur.

Ada sebuah lelucon lama yang beredar di kalangan umat Katolik. Seorang pria yang penasaran dengan iman Katolik mendatangi seorang frater Dominikan dan keduanya terlibat percakapan panjang. Sampailah mereka pada topik ordo-ordo religius.
Lelucon Klasik Antar-Ordo
“Jadi Anda seorang Dominikan?”
“Ya.”
“Apa yang bisa Anda ceritakan tentang Dominikan?”
“Singkatnya, kami didirikan oleh Santo Dominikus pada abad ke-13, sebagian untuk melawan bidaah Albigensian.”
“Hmm ok. Lalu bagaimana dengan Jesuit yang selalu saya dengar?”
“Mereka didirikan oleh Santo Ignatius Loyola pada abad ke-16, sebagian untuk melawan Reformasi Protestan.”
“Hmm, jadi ordo mana yang lebih besar?”Si frater Dominikan merenung sejenak, lalu menjawab:
“Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan orang Albigensian?”
Lelucon itu mengundang senyum, dan memang dirancang untuk itu. Yang menarik adalah dari mana ia berasal: bukan dari luar Gereja, melainkan dari dalam tradisi Katolik sendiri. Humor semacam ini sudah berlangsung berabad-abad di antara para frater, imam, dan umat. Jesuit menggoda Dominikan, Fransiskan menggoda semua orang, dan seterusnya.
Pertanyaannya adalah: apa artinya ini?
Institusi yang Sehat Bisa Menertawakan Dirinya Sendiri
Ketika sebuah komunitas bisa bercanda tentang dirinya sendiri, tentang persaingan internal dan perbedaan karakter antar-kelompok, itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda kepercayaan diri. Orang yang tidak aman dengan identitasnya tidak bisa tertawa pada dirinya sendiri; ia akan tersinggung atau defensif.
Gereja Katolik selama dua ribu tahun menyimpan banyak ketegangan internal yang nyata, antar-ordo, antar-teolog, bahkan antar-uskup. Dan ia tetap ada. Bukan karena konflik-konflik itu tidak pernah terjadi, melainkan justru karena Gereja tidak pernah berpura-pura konflik itu tidak ada.
Tapi Ada Versi Lain dari Cerita yang Sama
Belakangan saya menemukan bahwa kisah perseteruan nyata antara dua ordo ini diangkat oleh sebagian kalangan dengan sudut pandang yang sangat berbeda. Bukan sebagai bahan refleksi atau humor, melainkan sebagai bukti bahwa Gereja Katolik itu retak, tidak satu, dan karenanya tidak layak dipercaya.
Argumennya kira-kira berbunyi begini: “Lihat, bahkan para pemimpin Gereja sendiri bertengkar dan saling menghujat. Ini bukti bahwa klaim Gereja tentang kesatuan itu palsu.”
Argumen itu terdengar kuat pada pandangan pertama. Tapi ia menyembunyikan sesuatu yang penting, yaitu konteks.
Apa yang Sesungguhnya Terjadi di Trento
Kisah yang dimaksud adalah pertemuan antara Diego Laínez, dikenal juga sebagai James Laynez dalam literatur berbahasa Inggris, seorang teolog Jesuit Spanyol yang kelak menjadi Jenderal Serikat Yesus, dan Melchor Cano, teolog Dominikan brilian yang hadir di Konsili Trento sekitar 1551 sampai 1552 sebagai utusan Kaisar Charles V.
Cano adalah pengkritik keras ordo Jesuit yang baru berdiri. Ia curiga dengan metode dan struktur ordo baru itu. Pertemuan keduanya di Trento memang berlangsung panas, dan ada pertukaran kata yang tajam, termasuk respons Laínez yang cukup terkenal ketika Cano membandingkan dirinya dengan anjing penjaga yang menggonggong.
Trento, ~1551
Cano: “Bukankah Anda ingin mendengar anjing penjaga menggonggong ketika para gembala sedang tidur?”
Laínez: “Tentu saja. Biarlah mereka menggonggong. Tapi gonggonglah kepada serigala, bukan kepada sesama anjing penjaga.”
Perdebatan memanas. Laínez akhirnya meledak, kata penulis biografinya dengan kata-kata yang “tidak bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris yang sopan”, lalu berlari keluar ruangan.
Dan di sinilah bagian yang sering tidak dikutip oleh mereka yang menggunakan kisah ini sebagai bahan serangan.
“Di depan pintu jalan, Laínez berhenti. Berbalik. Naik tangga kembali ke kamar Cano. Dan berlutut meminta maaf.”
Ia tidak menganggap kemarahannya sebagai sesuatu yang benar hanya karena ia merasa tersinggung. Ia kembali dan berlutut.
Perbedaan yang Sering Diabaikan
Masalahnya bukan pada kisahnya. Masalahnya ada pada bagian mana yang dipilih untuk diceritakan.
Mereka mengutip bagian pertama, perdebatan yang panas, kata-kata kasar, Laínez yang berlari keluar, lalu berhenti di sana. Bagian kedua tidak dikutip: bahwa Laínez kembali dan berlutut. Setengah kisah yang dipilih dengan sengaja bisa terdengar seperti kebenaran penuh. Dan itu adalah cara berargumen yang tidak jujur, terlepas dari siapa yang melakukannya.
Konflik antara Laínez dan Cano adalah konflik antara dua orang yang sama-sama mencintai Gereja mereka, dengan cara dan temperamen yang berbeda. Cano khawatir ordo baru akan membawa inovasi yang berbahaya. Laínez merasa ordo mereka sudah sah dan tidak perlu terus-menerus dicurigai oleh sesama orang Katolik. Keduanya salah dalam beberapa hal, dan keduanya benar dalam beberapa hal yang lain.
Yang tidak terjadi adalah perpecahan. Gereja tidak pecah karena debat itu. Konsili Trento tetap berjalan dan menghasilkan dokumen-dokumen yang sampai hari ini menjadi fondasi teologi Katolik. Serikat Yesus tetap ada. Ordo Dominikan tetap ada. Dan keduanya sampai sekarang masih melayani dalam satu Gereja yang sama.
Dari Trento ke Paroki Kita
Kisah ini tidak terasa jauh ketika kita melihat kenyataan yang lebih dekat. Di banyak komunitas paroki, dinamika yang sama berulang dalam skala yang lebih kecil. Ada perbedaan pendapat yang memanas. Ada kata-kata yang keluar lebih keras dari yang seharusnya. Ada orang yang merasa tidak didengar, tidak dihargai, atau dikucilkan.
Yang kemudian terjadi sering kali bercabang dua. Ada yang memilih jalan Laínez di depan pintu itu: berhenti, berbalik, dan kembali untuk menyelesaikan sesuatu meski hati masih sakit. Ada juga yang memilih untuk pergi, dan kemudian dari luar mulai merongrong, menghasut, atau mengajak orang lain ikut dalam kekecewaannya.
Yang kedua ini menarik untuk direnungkan lebih dalam. Seseorang yang pergi karena merasa disakiti bisa dipahami. Tapi ketika kepergian itu berubah menjadi kampanye untuk melemahkan komunitas yang ditinggalkan, maka ia sudah berpindah peran: bukan lagi orang yang terluka, melainkan sumber luka bagi yang lain. Ia menggonggong bukan kepada serigala, tapi kepada sesama anjing penjaga yang masih setia berjaga di dalam.
Laínez memberi kita gambaran yang berbeda. Ia marah, ia meledak, ia bahkan sudah melangkah keluar. Tapi ada sesuatu yang menghentikannya sebelum pintu itu benar-benar tertutup. Dan apa yang ia lakukan sesudahnya, berlutut di hadapan orang yang baru saja ia sakiti, bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa ia tahu perbedaan antara kemarahan yang manusiawi dan perpecahan yang menjadi pilihan.
Penutup
Kembali ke lelucon di awal. Frater Dominikan itu tidak marah ketika ditanya soal persaingan antar-ordo. Ia menjawab dengan humor yang cerdas, dan di balik humor itu tersimpan kepercayaan diri yang tulus. Ia tidak perlu membuktikan apa-apa. Rekam jejak dua ribu tahun sudah bicara sendiri.
Yang sering menggoyahkan iman bukanlah sejarah itu sendiri, tetapi sejarah yang dipotong. Dan cara paling sederhana untuk melihat kebenaran adalah dengan membaca kisahnya sampai selesai.
Konflik itu manusiawi. Perpecahan itu pilihan. Dan selalu ada pintu yang masih terbuka untuk siapa saja yang mau berbalik.
