Dari Kutipan ke Dogma: Kesalahan Logika di Balik Tuduhan “Maria Mahakuasa”

Share

Belakangan ini beredar sebuah unggahan yang menuduh Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria memiliki kemahakuasaan ilahi – setara, atau hampir setara, dengan Kristus sendiri.

Buktinya? Sebuah kutipan dari The Glories of Mary karya Santo Alfonsus Liguori, halaman 96, yang berbunyi:

“Since the mother, then, should have the same power as the son, Jesus, who is omnipotent, has also made Mary omnipotent.”

Lalu kesimpulannya langsung dibuat: Katolik mengajarkan Maria mahakuasa. Itu penghujatan.

Masalahnya, kesimpulan itu tidak mengikuti dari premisnya. Dan di sinilah seluruh argumen mulai runtuh – bukan karena kutipannya salah dikutip, tetapi karena metode berpikirnya cacat sejak awal.


Baca Dulu Halaman yang Sama Secara Utuh

Sebelum melompat ke kesimpulan, ada satu hal yang perlu dilakukan: membaca halaman yang sama secara utuh.

Teks Liguori di halaman yang sama – halaman yang sama yang disorot – sudah memberikan kualifikasi yang sangat eksplisit:

“Jesus is omnipotent by nature, Mary is omnipotent only by grace.”

Dan lebih jauh:

“Mary is called omnipotent in the sense in which such a term can be applied to a creature who is incapable of a divine attribute; that is, she is omnipotent because she obtains by her prayers whatever she wishes.”

Liguori tidak sedang mengklaim Maria adalah Allah. Ia menggunakan kata omnipotent dalam pengertian analogis dan terbatas – merujuk pada efektivitas doa syafaat Maria, bukan kemahakuasaan ontologis yang hanya dimiliki Allah. Kualifikasi ini bukan tersembunyi di halaman lain. Ia ada di halaman yang sama yang disorot, dan diabaikan sepenuhnya.

Mengambil setengah kalimat, mengabaikan kualifikasinya yang eksplisit, lalu menyebutnya sebagai “ajaran Katolik” – itu bukan kritik. Itu seleksi teks.


Ada Kutipan Tidak Sama dengan Ada Doktrin

Tetapi bahkan jika kita setuju bahwa pilihan kata Liguori terlalu kuat dan rawan disalahpahami, masalah yang lebih mendasar tetap ada: metode pembuktiannya tidak benar.

Urutan yang benar seharusnya sederhana:

  1. Temukan kutipannya.
  2. Verifikasi sumbernya.
  3. Tentukan tingkat otoritasnya dalam hierarki ajaran Gereja.
  4. Baru simpulkan apakah itu ajaran resmi Gereja.

Dalam serangan di atas, langkah kedua, ketiga, dan keempat dilewati sepenuhnya. Seseorang menemukan kutipan di langkah pertama, lalu langsung melompat ke kesimpulan. Padahal yang berhasil dibuktikan baru satu hal:

Liguori pernah menulis kalimat tersebut.

Yang belum dibuktikan sama sekali:

Gereja Katolik mengajarkan kalimat tersebut sebagai doktrin yang mengikat.

Itu dua klaim yang berbeda. Dan mereka hanya membuktikan yang pertama.


Pertanyaan yang Tidak Pernah Dijawab

Jika tuduhannya adalah “Gereja Katolik mengajarkan Maria mahakuasa”, maka bukti yang dibutuhkan bukan kutipan seorang santo. Bukti yang dibutuhkan adalah dokumen yang berbicara atas nama Gereja.

Pertanyaannya sederhana:

Di mana Konsili Ekumenis yang mendefinisikannya?

Di mana definisi ex cathedra yang menyatakannya?

Di mana artikel Katekismus Gereja Katolik yang mengajarkannya?

Jika tidak bisa menunjukkan satu pun dari ketiganya, maka tuduhan itu belum terbukti. Bukan karena Liguori tidak menulis kalimat itu – ia memang menulisnya. Tetapi karena dari keberadaan sebuah kutipan tidak otomatis lahir sebuah doktrin.

Sesederhana itu.


Gereja Katolik Memiliki Hierarki Otoritas yang Jelas

Ini justru yang sering tidak dipahami: Gereja Katolik tidak memperlakukan semua pernyataan dengan bobot yang sama. Ada struktur otoritas yang berlapis dan jelas:

  • Kitab Suci
  • Dogma – definisi konsili ekumenis atau ex cathedra
  • Ajaran biasa Magisterium (ordinary magisterium)
  • Teologi para santo dan Doktor Gereja
  • Devosi dan opini teologis

The Glories of Mary adalah karya devosional pribadi seorang teolog besar. Ia bukan dokumen konsili. Ia bukan definisi ex cathedra. Ia bukan Katekismus. Ini bukan celah dalam sistem Katolik – ini adalah arsitektur yang memang dirancang agar Gereja tidak terjebak menjadikan setiap pendapat seorang tokoh sebagai iman yang mengikat.

Doktor Gereja bukan berarti setiap kalimat yang pernah ia tulis adalah dogma. Pengangkatan Liguori sebagai Doktor Gereja adalah pengakuan atas kontribusi luar biasanya dalam teologi moral dan devosi Marian – bukan sertifikasi bahwa seluruh pilihan katanya sempurna sebagai formula dogmatis.

Para Bapa Gereja berbeda pendapat dalam banyak hal. Para teolog besar berbeda pendapat dalam banyak hal. Bahkan para santo berbeda pendapat dalam banyak hal. Gereja tidak pernah mengajarkan: “Santo berkata X, maka X otomatis menjadi dogma.”


Standar Ganda yang Perlu Dipersoalkan

Pertanyaan yang perlu diajukan balik:

Jika satu kutipan Luther, Calvin, Spurgeon, atau MacArthur cukup untuk membuktikan doktrin resmi seluruh Protestan – apakah mereka bersedia menerima standar itu?

Tentu tidak. Tidak ada Protestan yang serius menerima metode seperti itu terhadap tradisinya sendiri. Setiap Protestan yang terlatih akan langsung bertanya: apa konteksnya, apa posisi resmi gerejanya, apakah itu mengikat seluruh tradisi?

Mengapa metode yang mereka tolak untuk Luther atau Calvin tiba-tiba dianggap sah ketika diterapkan kepada Liguori?

Ini bukan sekadar kesalahan logika. Ini inkonsistensi standar.


Ironi yang Lebih Dalam

Ada ironi yang sering tidak disadari dalam kritik semacam ini.

Keberatan terhadap Liguori justru menunjukkan mengapa hierarki otoritas itu diperlukan. Sebab sebelum seseorang dapat mengatakan “Katolik mengajarkan X”, ia harus lebih dahulu mengetahui siapa yang memiliki otoritas untuk berbicara atas nama Gereja.

Tanpa mekanisme itu, setiap kutipan dapat diangkat menjadi doktrin dan setiap opini dapat diperlakukan sebagai dogma. Perdebatan tidak lagi tentang apa yang diajarkan Gereja, tetapi tentang siapa yang kutipannya paling mengejutkan.

Justru karena Gereja Katolik memiliki hierarki otoritas yang jelas, sebuah kutipan dari seorang santo dapat ditempatkan pada levelnya yang tepat. Dalam tradisi yang tidak memiliki mekanisme ini, pertanyaan “mana yang wajib dipercaya dan mana yang hanya opini?” sering tidak memiliki jawaban yang jelas secara institusional. Akibatnya perdebatan bergeser dari dokumen ke tokoh: “Menurut Calvin.” “Menurut MacArthur.” “Menurut Piper.”

Kritik terhadap Liguori, tanpa disadari, sedang mendemonstrasikan keunggulan sistem yang sedang dikritiknya.


Catatan Kecil: “Maria Butuh Juruselamat” dan “Maria Kehilangan Yesus”

Dua argumen tambahan yang sering disertakan layak dijawab singkat.

Lukas 1:47“Hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Benar. Gereja Katolik mengajarkan hal yang sama. Dogma Immaculate Conception justis menegaskan bahwa Maria diselamatkan oleh Kristus – bukan bahwa ia menyelamatkan dirinya sendiri. Perbedaannya ada pada cara penyelamatan itu bekerja: preventif, sebelum dosa asal sempat menanggung akibatnya. Argumen ini tidak membantah Katolik. Ia mengulang apa yang memang diajarkan Katolik.

Lukas 2:45 dan 2:50 – Maria kehilangan Yesus di kerumunan, dan tidak sepenuhnya memahami perkataan-Nya. Masalahnya, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan Maria mahatahu (omniscient) atau mahahadir (omnipresent). Argumen ini menyerang posisi yang tidak pernah dipegang Gereja. Membuktikan bahwa Maria bukan Allah tidak membantah Katolik, karena Katolik memang tidak pernah mengajarkan Maria adalah Allah.


Kesimpulan

Pada akhirnya, kritik ini tidak berhasil membuktikan bahwa Gereja Katolik mengajarkan Maria memiliki kemahakuasaan ilahi.

Mereka berhasil membuktikan keberadaan sebuah kutipan. Mereka gagal membuktikan keberadaan sebuah doktrin. Dan sampai langkah itu dapat dilakukan – sampai ada Konsili Ekumenis, definisi ex cathedra, atau artikel Katekismus yang menunjukkannya – tuduhan bahwa “Katolik mengajarkan Maria mahakuasa” tetap merupakan kesimpulan yang belum terbukti.

Masalahnya bukan pada Maria.

Masalahnya bukan pada Liguori.

Masalahnya ada pada metode berpikir yang menganggap bahwa menemukan sebuah kutipan sama dengan menemukan ajaran resmi Gereja.

Standarnya runtuh sendiri.