Orang Berea Memeriksa Kitab Suci. Mengapa Hasilnya Berbeda-Beda Hari Ini?

Share

Saya pernah lelah.

Bukan karena kehabisan argumen. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi karena saya menyadari bahwa saya sedang menjawab pertanyaan yang sama, untuk kesekian kalinya, kepada orang yang berbeda-beda, tetapi dengan tuduhan yang hampir sama kata per katanya.

Di Facebook, pola itu sering berulang. Seseorang menulis tuduhan terhadap Gereja Katolik. Saya mencoba merespons dengan hati-hati. Lalu datang orang lain dengan tuduhan yang sama. Lalu yang lain lagi. Kadang argumennya identik, seolah disalin dari sumber yang sama, dilemparkan tanpa benar-benar menunggu jawaban.

Di titik itu saya mulai bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya masih berdialog, atau hanya sedang bereaksi?


Salah satu ayat yang paling sering dikutip dalam diskusi tentang Alkitab adalah kisah orang Berea.

“Mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar.” (Kisah Para Rasul 17:11)

Ayat ini sering dijadikan dasar bahwa setiap orang cukup membaca Alkitab sendiri untuk menemukan kebenaran.

Tetapi ada pertanyaan yang jarang diajukan.

Jika metodenya sama, mengapa hasilnya berbeda-beda?

Mengapa ada yang menjadi Lutheran, Reformed, Baptis, Pentakosta, Anglikan, dan masing-masing mengklaim kesimpulannya berasal dari Alkitab yang sama?

Ini bukan pertanyaan retoris. Ini pertanyaan yang serius dan perlu dijawab secara jujur.

Jika “periksa sendiri Kitab Suci” adalah jawaban yang cukup, mengapa orang-orang yang sama-sama memeriksa Kitab Suci justru berakhir pada kesimpulan yang saling bertentangan?

Dan ketika itu terjadi, ketika dua orang yang sama-sama serius memeriksa Alkitab sampai pada kesimpulan yang berlawanan, siapa yang berwenang menilai mana tafsir yang benar?

Masalahnya bukan apakah Kitab Suci benar. Kitab Suci benar. Masalahnya adalah ini: ketika pembaca Kitab Suci berbeda kesimpulan, siapa yang berwenang memutuskan?


Alkitab sendiri menyajikan tiga gambar yang perlu dibaca bersama.

Yang pertama adalah orang Berea. Mereka memeriksa Kitab Suci secara mandiri dan sungguh-sungguh. Mereka layak diteladani karena keseriusan dan keterbukaan hati mereka. Tetapi perlu dicatat: mereka memeriksa Kitab Suci bukan dalam kekosongan. Mereka memeriksa apakah pengajaran Paulus, yang sudah mereka terima dan dengar, sesuai dengan Kitab Suci. Ada pengajaran yang mendahului pemeriksaan mereka.

Yang kedua adalah sida-sida Etiopia.

“Lalu kata Filipus kepadanya: ‘Mengertikah engkau apa yang kaubaca itu?’ Jawabnya: ‘Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?’” (Kisah Para Rasul 8:30-31)

Sida-sida Etiopia bukan orang yang malas atau tidak serius. Ia seorang pejabat tinggi, sedang membaca Yesaya di dalam keretanya, dalam perjalanan pulang dari Yerusalem. Ia datang dengan Kitab Suci di tangan dan hati yang sungguh-sungguh mencari.

Tetapi ia jujur tentang satu hal: membaca saja tidak cukup. Ia butuh seseorang yang membimbingnya memahami apa yang sedang ia baca.

Dan Filipus, yang diutus oleh Roh Kudus, datang, duduk bersamanya, dan menjelaskan Kitab Suci itu mulai dari nas yang sedang dibacanya. Hasilnya: pertobatan dan baptisan.

Yang ketiga, dan ini yang paling berat, adalah Yesus sendiri.

Setelah kebangkitan, dua murid berjalan ke Emaus dengan hati yang hancur. Mereka bukan orang yang tidak mengenal Kitab Suci. Mereka sudah membaca. Mereka sudah mendengar laporan kebangkitan. Tetapi mereka tetap tidak mengerti.

Lalu Yesus berjalan bersama mereka dan melakukan sesuatu yang sangat spesifik:

“Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” (Lukas 24:27)

Yesus tidak berkata: “Baca lagi dengan lebih teliti.” Ia duduk bersama mereka dan menjelaskan maknanya.

Dan jauh sebelum itu, di sinagoge Nazaret, Yesus membaca Yesaya 61, lalu menutup gulungan itu, duduk, dan berkata:

“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Lukas 4:21)

Ia tidak sekadar membacakan teks. Ia menyatakan maknanya dengan otoritas penuh.


Pola yang muncul dari ketiga gambar ini bukan kebetulan.

Tidak satu pun dari ketiga kisah itu menunjukkan pola “teks saja, individu saja, tanpa pengajaran, tanpa komunitas, tanpa otoritas.”

Kitab Suci tidak dibaca tanpa menyadari kenyataan dari perjalanan Kitab Suci itu sendiri. Ia diterima, dibacakan, dijelaskan, diuji, dan dihidupi dalam komunitas iman.

Pertanyaan yang ditanam tadi kini mendapat bentuknya yang lebih jelas: jika Kitab Suci sendiri, dari Filipus sampai Yesus di Emaus, menggambarkan bahwa pemahaman yang benar membutuhkan bimbingan, bukan hanya niat baik dan teks di tangan, lalu dari mana bimbingan itu seharusnya datang?

Pertanyaan itu sengaja saya tinggalkan di sini tanpa jawaban yang dipaksakan. Bukan karena tidak ada jawabannya, tetapi karena jawaban itu hanya bermakna bagi orang yang sungguh mau bertanya, bukan bagi orang yang datang sudah membawa kesimpulan.


Di sinilah bacaan Injil hari ini menegur saya.

Yesus berkata:

“Jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan melemparkan mutiaramu kepada babi.” (Matius 7:6)

Ayat ini bukan izin untuk menghakimi orang lain. Ayat ini adalah panggilan untuk memiliki diskernmen dalam berdialog.

Tidak semua orang datang dengan sikap yang sama. Ada yang sungguh ingin mencari kebenaran. Ada pula yang hanya ingin memenangkan perdebatan, atau sekadar melemparkan tuduhan lalu pergi.

Tetapi cermin itu tidak boleh hanya diarahkan kepada orang lain. Ia juga harus diarahkan kepada saya sendiri.

Apakah saya masih berdialog untuk mencari kebenaran bersama?

Atau saya sudah mulai berdialog hanya untuk membuktikan bahwa saya benar?

Pertanyaan itu tidak nyaman. Tetapi mungkin justru di situlah letak pintu sempit yang Yesus maksud.


Yesus melanjutkan:

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Matius 7:12)

Artinya, sekalipun berbeda keyakinan, saya tetap wajib memperlakukan lawan bicara dengan hormat. Kebenaran tidak membutuhkan penghinaan agar tetap menjadi kebenaran.

Inilah yang perlu saya pegang ketika lelah itu datang.

Kelelahan bukan alasan untuk berhenti mengasihi. Tetapi kelelahan bisa menjadi sinyal untuk berhenti melemparkan mutiara ke tempat yang terus-menerus menginjaknya.


Jalan sempit bukan sekadar memilih respons yang sulit sesekali. Jalan sempit adalah pola hidup.

Dalam apologetika, jalan lebar memiliki dua bentuk.

Yang pertama, menerima begitu saja setiap tuduhan tanpa mengujinya, seolah diam selalu berarti rendah hati.

Yang kedua, membalas setiap serangan sampai pembelaan iman berubah menjadi kepahitan.

Jalan sempit berada di antara keduanya. Tetap berdialog. Tetap menguji. Tetap menghormati. Tetap rendah hati untuk mengoreksi diri bila ternyata salah. Dan tahu kapan harus berhenti, bukan karena menyerah, tetapi karena menyadari bahwa tidak semua percakapan memang dimaksudkan untuk mencari kebenaran bersama.


Orang Berea layak diteladani karena hati mereka terbuka. Sida-sida Etiopia layak diteladani karena ia jujur bahwa ia butuh bimbingan. Murid-murid Emaus layak diteladani karena mereka mau berhenti, mendengarkan, dan membiarkan hati mereka dibuka.

Ketiganya serius terhadap Kitab Suci. Ketiganya tidak berhenti pada diri sendiri.

Sikap itulah yang perlu dimiliki setiap orang Kristen. Bukan hanya ketika membaca Alkitab, tetapi juga ketika berdialog tentang iman.

Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah, “Apakah saya sudah memeriksa Kitab Suci?”

Melainkan, “Apakah saya masih bersedia dibentuk oleh kebenaran, ketika hasil pemeriksaan itu tidak sesuai dengan keyakinan saya?”

Saya masih terus belajar menjawab pertanyaan itu untuk diri saya sendiri.