Jangan buru-buru menolak, tetapi jangan pula menerima begitu saja. Pahami apa yang sebenarnya diajarkan dan uji berdasarkan Kitab Suci.
Setiap tanggal 31 Oktober, sebagian umat Kristen Protestan memperingati Reformation Day atau Hari Reformasi. Peristiwa ini berkaitan dengan Martin Luther yang pada tahun 1517 menerbitkan 95 Tesis, yang kemudian menjadi salah satu pemicu Reformasi Protestan.
Selama ini, kita cukup sering menemukan katekese, tulisan apologetika, dan artikel yang membahas bagaimana iman Katolik dipertanggungjawabkan ketika berhadapan dengan tuduhan atau klaim dari kalangan non-Katolik. Tidak jarang, tuduhan tersebut terasa tidak tepat karena ajaran Katolik dipahami secara keliru atau dilepaskan dari konteksnya. Dalam situasi seperti itu, perhatian kita biasanya tertuju pada bagaimana menjelaskan dan membela apa yang sebenarnya diajarkan Gereja.
Kali ini, bertepatan dengan momen peringatan Hari Reformasi dan kembali munculnya pembahasan tentang Lima Sola, kita mencoba mengambil sudut pandang yang sedikit berbeda. Bukan sekadar menjawab tuduhan, melainkan memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya dimaksud oleh Lima Sola, bagian mana yang sejalan dengan iman Katolik, dan bagian mana yang perlu diuji.
Salah satu warisan teologis Reformasi yang masih sering dibicarakan sampai sekarang adalah Lima Sola: Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Gratia, Solus Christus, dan Soli Deo Gloria.
Istilah-istilah ini mungkin sering kita temukan di media sosial, bahkan digunakan untuk mempertanyakan ajaran Gereja Katolik.
Sebagai umat Katolik, kita perlu memahaminya dengan benar. Sebab, tidak semua yang terkandung dalam Lima Sola bertentangan dengan iman Katolik. Justru sebagian besar prinsipnya juga kita imani.
Persoalannya terletak pada kata sola, yang berarti “hanya”, serta bagaimana kata tersebut diterapkan dalam memahami iman Kristen.
Ada satu hal yang hampir terlewat untuk disinggung: di sekitar momen Hari Reformasi ini, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus pada 1 November. Perayaan ini mengingatkan kita akan panggilan menuju kekudusan dan kesaksian hidup mereka yang telah setia kepada Allah. Namun, kita tidak akan membahasnya secara khusus di sini, sebab tema para kudus dan penghormatannya sudah cukup banyak dibahas dalam tulisan-tulisan apologetika. Kali ini, kita akan berfokus pada Lima Sola.
Mari kita lihat satu per satu.
━━━━━━━━━━
1. Sola Scriptura: Hanya Kitab Suci
Sola Scriptura mengajarkan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya otoritas tertinggi dan final bagi iman Kristen.
Tentu saja, umat Katolik juga percaya bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah dan harus menjadi pedoman hidup. Namun, apakah Alkitab sendiri mengajarkan bahwa hanya Kitab Suci yang menjadi sumber ajaran iman?
Dalam 2 Tesalonika 2:15, Paulus meminta jemaat berpegang pada ajaran yang disampaikan melalui perkataan maupun surat.
“Karena itu, saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.”
Artinya, ajaran para Rasul tidak hanya diwariskan secara tertulis, tetapi juga secara lisan. Inilah yang dalam Gereja Katolik dikenal sebagai Tradisi Suci atau Tradisi Apostolik.
Selain itu, dalam 1 Timotius 3:15, Paulus menyebut Gereja sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran”.
Ada persoalan lain yang sering terlupakan: dari mana kita mengetahui bahwa 27 kitab Perjanjian Baru merupakan bagian dari kanon Kitab Suci? Alkitab tidak menyediakan daftar isi yang menetapkan sendiri seluruh kitab Perjanjian Baru. Kanon tersebut dikenali melalui proses penerimaan dan penegasan dalam Gereja perdana.
Jadi, persoalannya bukan apakah kita harus berpegang pada Alkitab. Tentu harus. Persoalannya adalah apakah Firman Allah harus dipisahkan dari Tradisi Apostolik dan Gereja yang menerima serta mewariskannya.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kitab Suci dan Tradisi Suci berasal dari satu sumber ilahi. Magisterium bertugas melayani dan menafsirkan Sabda Allah, bukan berada di atasnya.
━━━━━━━━━━
2. Sola Fide: Hanya Iman
Sola Fide mengajarkan bahwa manusia dibenarkan oleh iman saja, bukan karena perbuatan.
Prinsip ini sering didasarkan pada Efesus 2:8-9, yang menjelaskan bahwa keselamatan merupakan pemberian Allah, bukan hasil usaha manusia.
Gereja Katolik tidak menyangkal hal tersebut. Tidak seorang pun dapat membeli keselamatan melalui perbuatan baik. Keselamatan adalah anugerah Allah.
Namun, jangan berhenti membaca sampai ayat 9. Dalam Efesus 2:10, Paulus melanjutkan bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.
Yakobus 2:24 bahkan menyatakan dengan jelas bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
“Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”
Apakah Paulus dan Yakobus saling bertentangan? Tidak. Paulus menentang anggapan bahwa manusia dapat memperoleh keselamatan melalui jasa dan usaha sendiri. Yakobus menentang iman yang hanya berhenti pada pengakuan tanpa menghasilkan perbuatan.
Perbedaannya penting: perbuatan baik bukan harga untuk membeli keselamatan, tetapi iman yang hidup harus menghasilkan kasih dan ketaatan.
Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17).
━━━━━━━━━━
3. Sola Gratia: Hanya Rahmat
Sola Gratia menegaskan bahwa keselamatan sepenuhnya merupakan anugerah Allah, bukan hasil kemampuan manusia.
Dalam hal ini, Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa rahmat Allah selalu mendahului dan menyertai keselamatan. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa rahmat Allah.
Namun, apakah menerima rahmat berarti manusia tidak perlu memberikan respons?
Filipi 2:12-13 memberikan gambaran yang menarik. Paulus meminta jemaat mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar, karena Allah sendiri bekerja di dalam mereka, baik dalam kemauan maupun pekerjaan.
“Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
Perhatikan hubungan keduanya. Allah bekerja di dalam manusia, tetapi manusia juga dipanggil untuk menanggapi karya Allah tersebut.
Gereja Katolik menyebutnya kerja sama manusia dengan rahmat Allah. Bukan berarti manusia menyelamatkan dirinya sendiri, melainkan manusia menanggapi rahmat yang terlebih dahulu diberikan Allah.
Jadi, rahmat dan tanggung jawab manusia tidak harus dipertentangkan. Bahkan kemampuan manusia untuk merespons Allah pun berasal dari rahmat-Nya.
━━━━━━━━━━
4. Solus Christus: Hanya Kristus
Solus Christus menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia.
Ini juga merupakan iman Gereja Katolik. Tidak ada manusia lain yang dapat menggantikan Kristus dalam karya keselamatan.
Namun, kita perlu membedakan keunikan Kristus sebagai Pengantara dengan doa syafaat antarsesama orang beriman.
Dalam 1 Timotius 2:5, Paulus menyebut Kristus sebagai satu-satunya Pengantara. Tetapi menariknya, dua ayat sebelumnya, yaitu 1 Timotius 2:1, Paulus justru meminta jemaat menaikkan doa permohonan dan doa syafaat bagi semua orang.
Artinya, doa syafaat tidak otomatis bertentangan dengan pengakuan bahwa Kristus adalah satu-satunya Pengantara.
Kita sendiri sering meminta keluarga atau teman untuk mendoakan kita. Itu tidak berarti mereka menggantikan Kristus.
Karena itu, ketika membahas Solus Christus, kita perlu memahami bahwa keunikan Kristus dalam keselamatan tidak serta-merta meniadakan doa dan perantaraan dalam kehidupan umat beriman.
━━━━━━━━━━
5. Soli Deo Gloria: Segala Kemuliaan bagi Allah
Soli Deo Gloria mengajarkan bahwa segala kemuliaan pada akhirnya harus diberikan kepada Allah.
Gereja Katolik juga mengimani hal ini. Allah adalah sumber segala kebaikan, kekudusan, dan keselamatan.
Namun, apakah memberikan penghormatan kepada manusia berarti mengambil kemuliaan Allah?
Dalam Yohanes 12:26, Yesus mengatakan bahwa Bapa akan menghormati mereka yang melayani-Nya. Roma 2:10 juga berbicara tentang kemuliaan dan kehormatan bagi orang yang berbuat baik.
Jadi, Kitab Suci sendiri mengenal adanya penghormatan yang diberikan kepada manusia.
Yang perlu dibedakan adalah penghormatan dan penyembahan. Menghormati seseorang karena kesetiaannya kepada Allah tidak berarti menempatkannya sebagai Allah.
Ketika Gereja Katolik menghormati para kudus, Gereja tidak menjadikan mereka sumber keselamatan atau kekudusan. Kekudusan mereka justru merupakan buah rahmat Allah.
Dengan demikian, menghormati karya Allah dalam kehidupan para kudus tidak berarti mengambil kemuliaan yang menjadi milik-Nya.
━━━━━━━━━━
Lalu, apa yang sebenarnya perlu kita pahami?
Setelah melihat kelima prinsip tersebut, ada satu hal yang menjadi jelas: Gereja Katolik tidak menolak Kitab Suci, iman, rahmat, Kristus, ataupun kemuliaan Allah.
Semuanya merupakan bagian mendasar dari iman Katolik.
Yang perlu diuji adalah ketika kata alone atau “hanya” digunakan untuk menyingkirkan unsur lain yang juga memiliki dasar dalam Kitab Suci.
- Sola Scriptura: apakah Kitab Suci mengajarkan bahwa Tradisi Apostolik tidak memiliki otoritas?
- Sola Fide: apakah iman dapat dipisahkan dari perbuatan kasih?
- Sola Gratia: apakah rahmat Allah meniadakan tanggung jawab manusia?
- Solus Christus: apakah keunikan Kristus sebagai Pengantara meniadakan doa syafaat?
- Soli Deo Gloria: apakah segala penghormatan kepada manusia berarti mengambil kemuliaan Allah?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena kita tidak boleh membangun pemahaman iman hanya berdasarkan satu atau dua ayat yang dilepaskan dari konteksnya.
Kita juga perlu bersikap adil. Tidak semua denominasi Protestan memahami kelima Sola dengan cara yang sama. Karena itu, pahami dahulu apa yang sebenarnya mereka ajarkan sebelum memberikan tanggapan.
━━━━━━━━━━
Penutup
Sebagai umat Katolik, kita tidak perlu takut mempelajari Lima Sola Reformasi. Kita juga tidak perlu merasa harus menolak semuanya hanya karena berasal dari tradisi Protestan.
Namun, jangan pula menerima sebuah prinsip hanya karena terdengar alkitabiah.
Bacalah Kitab Suci secara utuh. Pelajari Tradisi Apostolik. Pahami ajaran Gereja dan sejarah kekristenan.
Iman yang dewasa bukan iman yang hanya pandai menghafal istilah atau mengutip ayat untuk memenangkan perdebatan. Iman yang dewasa adalah iman yang memahami apa yang dipercayai dan mengapa kita mempercayainya.
Jangan hanya bertanya apakah sebuah ajaran terdengar alkitabiah. Periksa apakah ajaran itu benar-benar sesuai dengan keseluruhan kesaksian Kitab Suci.
Soli Deo Gloria. Segala kemuliaan hanya bagi Allah.
