Pernahkah Anda merasa lelah dengan rutinitas, atau frustrasi dengan keadaan yang tidak berubah meski sudah berusaha begitu keras? Saya pernah. Belakangan ini, saya bergumul dengan perasaan itu, dan sebuah adegan dari serial The Chosen terus melekat dalam benak saya. Saat Yesus menyembuhkan seseorang di hari Sabat, lalu dengan tenang berfirman: “Sometimes, you gotta stir up the water.” Kalimat sederhana ini membuka pemahaman baru tentang iman dalam perjalanan spiritual saya.
Kolam Betesda dan Paradoks Pengharapan
Ungkapan ini merujuk pada kisah kolam Betesda dalam Yohanes 5. Di sana, orang-orang sakit berkerumun menanti “pengadukan air” oleh malaikat—satu momen ketika kesembuhan tersedia bagi yang pertama menyentuh air. Para penderita berbaring sepanjang tepi kolam, mata mereka tak pernah lepas dari permukaan air yang tenang, menunggu dengan sabar dan pengharapan.
Yang menggetarkan adalah respons Yesus. Dia tak menunggu fenomena air yang teraduk, tetapi langsung bertindak dengan kuasa-Nya sendiri. Dia menunjukkan bahwa kuasa penyembuhan-Nya melampaui tradisi dan ekspektasi manusia. Bagi-Nya, hari Sabat adalah waktu untuk menunjukkan belas kasih Allah, bukan untuk dibatasi oleh interpretasi sempit tentang hukum.
Ketika Ketaatan Berbentuk Keberanian
Baru-baru ini, saya memutuskan keluar dari peran yang telah saya jalani beberapa tahun. Memang ada kelelahan dan frustrasi yang saya rasakan, tapi jauh lebih dari itu, saya merasakan bisikan lembut itu: “Air di sini sudah terlalu tenang. Aku ingin engkau berenang di tempat yang Kupersiapkan.” Kelelahan yang saya alami bukanlah alasan utama perubahan, melainkan mungkin justru sinyal dari Tuhan bahwa waktunya telah tiba untuk bergerak.
Refleksi ini mengingatkan saya pada para imam Yahudi pada masa Yesus. Mereka begitu sibuk menjaga kemurnian Sabat sampai lupa bahwa Sang Pemberi Sabat sedang berdiri tepat di depan mereka. Bukankah kita pun kerap demikian? Terjebak dalam “kolam” rutinitas rohani yang nyaman, sementara Tuhan ingin kita berlayar di samudera iman yang luas dan tak terpetakan.
Hidup Berkelimpahan dalam Kasih Karunia
“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10)
Janji Yesus ini berbicara tentang kehidupan yang penuh dan bermakna. Dalam ajaran Katolik, hidup yang berkelimpahan ini tak terpisahkan dari rahmat Allah dan partisipasi kita dalam hidup ilahi. Hidup berkelimpahan bukan tentang kenyamanan duniawi, melainkan tentang hubungan yang intim dengan Kristus melalui doa, sakramen, dan pelayanan.
Keputusan saya untuk melangkah keluar adalah suatu respons terhadap rahmat Allah yang bekerja dalam hidup saya. Seringkali, kita perlu meninggalkan sesuatu yang baik untuk menemukan sesuatu yang lebih sesuai dengan panggilan Allah bagi kita. Santo Ignatius dari Loyola mengajarkan bahwa dalam diskresi rohani, kita perlu peka terhadap gerakan-gerakan roh dan berani melangkah sesuai dengan apa yang membawa kita lebih dekat kepada Allah.
Tanda-tanda dari Roh Kudus
Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Tuhan sedang memimpin kita? Dalam tradisi Katolik, discernment (pengertian batin) adalah proses penting untuk membedakan suara Tuhan dari keinginan pribadi. Tuhan berbicara melalui berbagai cara, termasuk melalui Kitab Suci, ajaran Gereja, nasihat rohani, dan gerakan-gerakan dalam hati kita.
Beberapa tanda yang saya alami dalam proses discernment:
- Kedamaian batin meski menghadapi ketidakpastian. Keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan biasanya disertai kedamaian batin yang mendalam, bahkan di tengah kebingungan eksternal.
- Konfirmasi melalui doa dan Kitab Suci. Saat saya membawa pergumulan ini dalam doa, saya menemukan keteguhan dan arah yang lebih jelas.
- Nasihat dari pembimbing rohani. Bimbingan dari pemimpin rohani yang bijaksana membantu saya memahami kehendak Tuhan dengan lebih jelas.
- Kesesuaian dengan ajaran Gereja. Roh Kudus tidak akan memimpin kita bertentangan dengan ajaran Gereja yang diberikan-Nya kepada kita.
- Buah-buah rohani seperti kasih, sukacita, dan damai sejahtera (Galatia 5:22-23) yang muncul meski dalam proses yang sulit.
Mencari Makna dalam Perubahan
Dalam ajaran Katolik, rahmat Allah bekerja dalam seluruh aspek kehidupan kita, termasuk dalam kelelahan dan pergumulan. Bahkan saat kita merasa lemah, Tuhan dapat bekerja melalui kelemahan kita, seperti yang ditulis Santo Paulus: “Sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).
Ketika saya memutuskan untuk membuat perubahan dalam hidup saya, beberapa hal terjadi:
- Pertumbuhan dalam iman: Saya harus lebih bergantung pada Tuhan dan kurang pada kekuatan sendiri
- Pembaruan perspektif: Pandangan saya tentang panggilan hidup diperluas dan diperdalam
- Pemulihan kekuatan: Dengan mematuhi dorongan untuk berubah, saya menemukan energi baru dan sukacita dalam melayani
- Penguatan dalam sakramen: Ekaristi dan Rekonsiliasi menjadi sumber kekuatan yang lebih bermakna dalam perjalanan ini
Dalam tradisi Katolik, perubahan dan pembaruan selalu terjadi dalam konteks komunitas iman. Saya menemukan bahwa keputusan pribadi saya berdampak pada dan didukung oleh komunitas gereja.
Epilog: Berjalan dalam Iman
Perjalanan iman kita adalah seperti pelayaran di lautan kehidupan. Ada saat-saat tenang, dan ada saat-saat badai. Keputusan untuk membuat perubahan dalam hidup saya terasa seperti melangkah ke dalam perahu yang siap berlayar ke perairan yang belum pernah dijelajahi. Ada keraguan dan ketakutan, namun juga ada keyakinan bahwa Kristus ada bersama saya dalam perahu itu.
Seperti Petrus yang berjalan di atas air menuju Yesus, saya pun mengalami momen-momen ketika saya hampir tenggelam dalam keraguan. Tetapi di saat-saat itulah tangan Kristus terasa paling nyata, menopang dan membimbing.
Kini saya memahami bahwa kelelahan dan perubahan bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan iman yang diizinkan Tuhan. Seperti yang diajarkan Gereja, Tuhan sering bekerja melalui cara-cara yang tak terduga untuk membawa kita lebih dekat kepada-Nya.
Bagi Anda yang mungkin sedang merasakan kelelahan atau panggilan untuk perubahan, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda. Melalui Gereja-Nya, sakramen-sakramen-Nya, dan komunitas iman, Tuhan memberikan kekuatan dan bimbingan. Mungkin Dia sedang memanggil Anda untuk melangkah dalam iman, seperti para murid yang meninggalkan jaring mereka untuk mengikuti Kristus.
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” — Yesaya 41:10
