Suatu kali, saya mendengar seseorang berkata dengan nada yang terdengar wajar:
“Maria juga manusia biasa. Ia juga sempat ragu ketika malaikat datang. Sama seperti kita.”
Kalimat ini terasa menenangkan, seolah iman besar pun lahir dari keraguan yang sama. Namun justru di sinilah letak kekeliruannya. Kita sering menyamakan bertanya dengan tidak percaya, padahal Kitab Suci membedakan keduanya dengan sangat jelas.
Pertanyaan yang sama bisa lahir dari hati yang berbeda.
Kisah Zakharia dan Maria memperlihatkan hal itu dengan terang.
Mengapa Zakharia Dibungkam, tetapi Maria Dipuji?
Sekilas, pertanyaan mereka terdengar hampir sama.
Zakharia berkata:
“Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya,” (Luk 1:18)Maria berkata:
“Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1:34)
Yang satu dibungkam.
Yang lain disebut “yang diberkati di antara perempuan.”
Apakah Allah tidak adil?
Tidak. Perbedaannya bukan pada kata-kata, melainkan pada sikap batin.

Zakharia tidak sedang mencari pemahaman, tetapi mencari kepastian sebelum percaya. Pertanyaannya menyiratkan makna: “Dengan tanda apa aku bisa memastikan ini?” Firman Allah masih harus lulus rasa aman dan logikanya sendiri.
Maria tidak meminta bukti. Ia tidak bertanya apakah janji itu benar, melainkan bagaimana janji itu akan terlaksana. Imannya sudah ada; yang ia cari hanyalah penjelasan.
Zakharia bertanya sambil menahan diri.
Maria bertanya sambil menyerahkan diri.
Surga merespons arah hati, bukan struktur kalimat.
Zakharia adalah seorang imam, terdidik dalam Kitab Suci, dan melayani di Bait Allah. Ia mengenal kisah Abraham, Sara, dan Hana—bahwa Allah sudah berulang kali memberi anak kepada mereka yang lanjut usia. Namun ia justru meragukan sesuatu yang sudah pernah Allah lakukan.
Maria hanyalah gadis muda dari Nazaret, tanpa kedudukan religius. Ia diminta percaya pada sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia: kelahiran dari seorang perawan.
Yang satu ragu di tengah kelimpahan tanda.
Yang lain percaya di tengah ketidakpastian total.
Inilah iman.
Allah membisukan Zakharia bukan untuk menghukumnya secara kejam, melainkan untuk mendidiknya. Kadang Tuhan menghentikan kata-kata kita agar kita belajar mendengarkan.
Dan ketika mulut Zakharia dibuka kembali, kata-kata pertamanya bukan pembelaan, melainkan pujian: Benedictus_*. Iman yang matang sering lahir dari *keheningan yang dipaksakan*.
Zakharia menyanyikan Benedictus setelah imannya dipulihkan.
Maria menyanyikan Magnificat_* karena imannya sudah utuh sejak awal.
Keduanya indah.
Keduanya dipakai Allah.
Namun hanya satu yang sejak awal berkata tanpa syarat:
“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Iman tidak menolak pertanyaan. Yang ditolak iman adalah keinginan untuk tetap memegang kendali.
Menuntut kendali berarti berkata dalam hati:
Aku akan percaya kalau semuanya sudah jelas.
Aku akan taat kalau risikonya aman.
Aku terima kehendak Allah asal masuk akalku.
Maria tidak melakukan itu. Ia tidak meminta tanda, tidak menawar risiko, dan tidak menunda keputusan. Ia percaya lebih dulu, lalu berjalan.
Iman Kristen bukan mematikan akal, tetapi menempatkan akal di bawah kepercayaan, bukan di atasnya.
Mengatakan bahwa Maria juga ragu seperti manusia biasa mungkin terdengar rendah hati, tetapi sebenarnya mengaburkan teladan iman yang hendak ditunjukkan Kitab Suci.
Maria tidak dipuji karena ia tidak bertanya, melainkan karena ia percaya tanpa syarat. Bukan karena ia mengerti segalanya, tetapi karena ia menyerahkan dirinya sepenuhnya.
Dan karena itu Kitab Suci menutup kisah ini dengan kalimat yang jujur dan tegas:
“Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Lukas 1:45)
Iman sejati bukan berkata,
“Aku paham dulu baru percaya.”
Iman sejati berkata,
“Aku percaya, maka aku siap melangkah.”
