Ada sebuah pertanyaan yang sering muncul dalam debat antara Katolik dan Protestan, tetapi jarang benar-benar dijawab sampai tuntas. Pertanyaan itu bukan soal apakah Alkitab adalah Firman Allah. Hampir semua tradisi Kristen sepakat di situ. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah ini: ketika dua orang yang sama-sama mencintai Alkitab, sama-sama berdoa, dan sama-sama mengaku dipimpin Roh Kudus sampai pada kesimpulan yang berbeda tentang suatu ajaran, siapa atau apa yang berwenang memutuskan?
Pertanyaan ini tampak sederhana. Tetapi begitu kita mulai mengikuti ke mana ia mengarah, kita akan mendapati bahwa ia bukan sekadar pertanyaan tentang tafsiran ayat. Ia adalah pertanyaan tentang sifat Gereja itu sendiri.
Masalah yang Sering Luput

Dalam banyak debat Katolik-Protestan, kedua pihak terjebak di lapisan permukaan: ayat ini artinya apa, kata Yunani ini lebih tepat diterjemahkan bagaimana, atau siapa yang memiliki eksegesis yang lebih kuat. Pertukaran seperti itu tidak sepenuhnya sia-sia, tetapi ia sering berputar tanpa kemajuan nyata karena kedua pihak tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak sedang berdebat tentang hal yang sama.
Persoalan yang lebih mendasar bukan hermeneutika, melainkan otoritas epistemik. Artinya: bukan bagaimana Alkitab harus ditafsirkan, tetapi siapa yang berhak memberikan keputusan yang mengikat ketika para penafsir tidak sepakat.
Kisah Para Rasul 8 memberikan gambaran yang menarik. Sida-sida Etiopia yang membaca Yesaya bukan orang yang tidak terpelajar. Ia seorang pejabat tinggi yang jelas dapat membaca. Namun ketika Filipus bertanya apakah ia mengerti apa yang dibacanya, jawabannya jujur: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Yang dibutuhkan bukan sekadar teks. Yang dibutuhkan adalah pembimbing yang berotoritas.
Demikian pula dalam Kisah Para Rasul 15. Ketika muncul krisis doktrin tentang sunat dan keselamatan orang bukan Yahudi, solusinya bukan menyuruh setiap jemaat membaca sendiri dan menyimpulkan sendiri. Para rasul berkumpul dalam konsili, berdebat, lalu mengeluarkan keputusan yang mengikat seluruh Gereja dengan kalimat yang tegas: “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.”
Itu bukan gaya kerja sebuah gerakan yang percaya bahwa setiap orang dapat menafsirkan sendiri tanpa otoritas yang memutuskan.
Sola Scriptura dan Problem Adjudikasi
Doktrin Sola Scriptura mengajarkan bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas final dan cukup dalam soal iman dan moral. Dalam formulasinya yang matang, doktrin ini tidak mengklaim bahwa manusia tidak membutuhkan pengajaran atau bahwa Gereja tidak penting. Ia mengklaim bahwa semua otoritas pengajaran harus tunduk pada dan dapat dikoreksi oleh Alkitab.
Ini adalah posisi yang koheren secara internal. Tetapi ia menghadapi satu masalah yang belum terpecahkan: ia tidak menyediakan mekanisme adjudikatif yang konkret.
Bayangkan situasi yang sangat nyata. Dua orang Kristen Reformed yang sama-sama berpendidikan teologi, sama-sama berdoa setiap hari, sama-sama mengasihi Tuhan, dan sama-sama berkomitmen untuk tunduk pada Alkitab, berbeda pendapat tentang apakah keselamatan bisa hilang. Keduanya membawa deretan ayat. Keduanya memiliki argumen eksegesis yang serius. Keduanya mengklaim dipimpin Roh Kudus.
Siapa yang benar? Dan yang lebih penting: mekanisme apa yang secara prinsip dapat memberikan jawaban yang mengikat?
Tradisi Reformed biasanya menjawab dengan menyebut “komunitas yang menguji” atau sinode dan konsili denominasi. Ini jawaban yang tidak sepenuhnya salah. Tetapi ia hanya memindahkan masalah satu tingkat ke atas. Jika sinode Lutheran berbeda dengan sinode Presbiterian, siapa yang mengadili keduanya? Jika tidak ada otoritas di atas keduanya, maka keputusan akhir tetap kembali kepada individu atau komunitas lokal yang memilih sinode mana yang akan diikutinya.
Hasilnya dapat kita lihat dalam sejarah. Bukan sebagai tuduhan, tetapi sebagai fakta yang dapat diverifikasi: Alkitab yang sama, dibaca oleh orang-orang yang sama-sama mengaku dipimpin Roh Kudus, telah menghasilkan Lutheran, Reformed, Baptis, Metodis, Pentakosta, Presbiterian, Anglikan, dan ribuan variasi lainnya, dengan perbedaan yang bukan sekadar soal tata ibadah, melainkan soal doktrin fundamental seperti sakramen, pembenaran, dan sifat Gereja itu sendiri.
Dari Hermeneutika ke Ekklesiologi
Begitu kita mengenali bahwa masalahnya bukan tafsiran melainkan otoritas, diskusi harus bergerak ke lapisan berikutnya: ekklesiologi, atau pemahaman tentang apa dan bagaimana Gereja.
Di sini terlihat bahwa dua tradisi besar Kekristenan, Protestan di satu sisi dan Katolik-Ortodoks di sisi lain, tidak sekadar berbeda dalam tafsiran ayat. Mereka berbeda dalam gambaran dasar tentang apa yang dimaksud dengan Gereja.
Dalam kerangka Protestan klasik, Gereja dikenali karena kesetiaannya kepada Injil. Urutannya: Injil mendahului Gereja, dan Gereja memperoleh legitimasinya dari kesetiaannya kepada Injil. Ini yang memungkinkan Reformasi berkata: ketika Gereja menyimpang dari Injil, Gereja harus dikoreksi oleh Injil.
Dalam kerangka Katolik dan Ortodoks, Kristus mendirikan Gereja untuk menjaga dan mewartakan Injil. Urutannya: Kristus mendahului Gereja, dan Gereja mendahului Perjanjian Baru sebagai koleksi tulisan yang tersusun. Karena itu pertanyaan utamanya bukan apakah Gereja setia kepada Injil, melainkan Gereja manakah yang didirikan Kristus untuk menjaga Injil itu.
Perbedaan ini bukan soal ayat. Ia adalah perbedaan ontologis tentang apa yang sedang kita bicarakan ketika kita menyebut kata “Gereja.” Dan karena kedua pihak membawa gambaran Gereja yang berbeda ke dalam pembacaan teks yang sama, masing-masing merasa teks itu mendukung posisinya. Karena memang benar, teks itu dapat dibaca untuk mendukung keduanya, jika seseorang sudah membawa asumsi yang berbeda ke dalam pembacaan.
Argumen yang Paling Sulit Dihindari
Sejauh ini argumen yang kita bangun masih bergerak di wilayah filosofis dan logis. Tetapi ada satu argumen historis yang sifatnya berbeda. Ia tidak meminta lawan untuk menerima premis Katolik terlebih dahulu. Ia hanya meminta konsistensi internal.
Argumen itu berkaitan dengan kanon Alkitab.
Kanon Perjanjian Baru tidak jatuh dari langit dalam bentuk daftar yang sudah tersusun rapi. Tidak ada ayat dalam Perjanjian Baru yang berbunyi: “Kitab-kitab yang diilhami adalah Matius sampai Wahyu, berjumlah 27.” Daftar itu tidak ada di dalam teks itu sendiri.
Lantas dari mana seorang Kristen abad ke-21 mengetahui bahwa Injil Matius termasuk Kitab Suci tetapi Injil Tomas tidak? Bahwa surat Paulus kepada jemaat Roma adalah Firman Allah tetapi surat Klemens kepada jemaat Korintus, yang sangat dihormati di Gereja awal, tidak?
Jawabannya adalah: ia mengetahuinya karena Gereja historis yang konkret, dengan uskup, sinode, dan konsili yang dapat diidentifikasi nama dan tanggalnya, memutuskan hal itu. Konsili Hippo tahun 393 dan Konsili Kartago tahun 397 adalah momen-momen historis di mana para uskup yang berhimpun menetapkan batas-batas kanon.
Seorang Reformed akan segera menjawab bahwa Gereja tidak menciptakan kanon, melainkan hanya mengenali kanon yang sudah memiliki otoritas inheren. Ini jawaban yang tidak sepenuhnya salah. Tetapi ia membuka pertanyaan yang sama sulitnya: jika Gereja abad keempat cukup dapat dipercaya untuk mengenali dengan benar mana tulisan yang diilhami Allah, mengapa kepercayaan itu dianggap berhenti tepat di situ?
Dilema yang muncul cukup tajam. Jika Gereja historis cukup dapat dipercaya dalam hal yang paling fundamental, yaitu menetapkan batas wahyu itu sendiri, maka atas dasar apa kesaksian Gereja yang sama tentang baptisan, Ekaristi, suksesi apostolik, dan struktur Gereja langsung dianggap tidak dapat dipercaya? Sebaliknya, jika Gereja abad keempat tidak memiliki otoritas atau reliabilitas khusus, maka atas dasar apa kita yakin bahwa keputusan mereka tentang kanon itu benar?
Tidak ada jalan tengah yang mudah di sini. Konsistensi menuntut kita memilih salah satu.
Ketika Kepastian Dipindahkan ke Ranah Batin
Teolog Reformed Calvin merumuskan sebuah konsep yang dikenal sebagai testimonium Spiritus Sancti internum, kesaksian batin Roh Kudus, sebagai dasar kepastian bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Ini argumen yang serius dan tidak boleh dianggap enteng.
Tetapi ia menghadapi dua kesulitan yang berat.
Pertama, kesaksian batin itu bersifat personal dan tidak dapat diverifikasi secara publik. Jika dua orang sama-sama mengklaim memiliki kesaksian batin Roh Kudus tetapi berbeda dalam hal tertentu, katakanlah seseorang ragu terhadap salah satu kitab sementara yang lain menerimanya penuh, mekanisme apa yang memutuskan siapa yang sungguh-sungguh dipimpin Roh Kudus?
Kedua, ada inkonsistensi yang sulit dijelaskan: jika kesaksian batin Roh Kudus cukup untuk menghasilkan kepastian tentang kanon, mengapa ia tidak menghasilkan kesatuan yang sama tentang baptisan, Ekaristi, pembenaran, predestinasi, dan sifat Gereja? Mengapa Roh yang sama menghasilkan kepastian yang konvergen dalam satu hal tetapi divergensi yang luar biasa dalam hal-hal yang lain?
Jika jawabannya adalah bahwa manusia bisa salah dalam menafsirkan, maka jawaban yang sama berlaku untuk pengenalan kanon. Jika jawabannya adalah bahwa Roh Kudus secara khusus memelihara Gereja dalam hal kanon, maka kita sudah kembali ke premis Katolik dan Ortodoks bahwa ada pemeliharaan Gereja secara historis yang nyata.
Membaca Sejarah dengan Jujur
Pada titik ini, perdebatan tidak lagi produktif jika terus berlangsung hanya di level debat ayat per ayat. Yang diperlukan adalah kesediaan membaca sumber primer dengan sabar.
Ignatius dari Antiokhia menulis tujuh surat sekitar tahun 107 Masehi, kurang dari satu generasi setelah para rasul. Dalam surat-surat itu ia berbicara tentang uskup, Ekaristi, dan kesatuan Gereja dengan cara yang sangat konkret:
“Di mana uskup berada, di sana hendaknya jemaat berkumpul, sama seperti di mana Yesus Kristus berada, di sana ada Gereja Katolik.”
Irenaeus dari Lyon sekitar tahun 180 Masehi berargumen secara eksplisit bahwa suksesi apostolik adalah mekanisme yang menjaga integritas ajaran melawan ajaran sesat. Cyprianus dari Kartago pada abad ketiga menulis bahwa seseorang tidak dapat memiliki Allah sebagai Bapanya jika ia tidak memiliki Gereja sebagai ibunya.
Pertanyaan yang wajar ketika membaca mereka bukan apakah mereka mengajarkan Sola Scriptura. Pertanyaannya adalah: mengapa Gereja yang mereka gambarkan terlihat sangat berbeda dari banyak asumsi Protestan modern tentang apa itu Gereja?
Kekristenan abad kedua dan ketiga bukan gerakan yang terdiri dari komunitas-komunitas berdaulat yang masing-masing menafsirkan Alkitab secara mandiri. Ia adalah gerakan yang sangat episkopal, sangat sakramental, dan sangat komunal, dengan kesatuan yang diatur melalui suksesi uskup yang dapat diidentifikasi secara historis.
Pertanyaan yang Masih Terbuka
Argumen yang telah dibangun di sini memiliki batas yang jujur dan perlu disebutkan secara eksplisit.
Argumen ini tidak membuktikan bahwa Gereja Katolik secara khusus adalah satu-satunya pewaris sah dari Kekristenan historis. Seorang Ortodoks yang cerdas dapat mengikuti seluruh argumen ini dari awal sampai akhir dan mengangguk di setiap titik, lalu berkata: “Tepat sekali. Dan itulah mengapa saya Ortodoks, bukan Katolik.”
Yang berhasil ditunjukkan argumen ini adalah sesuatu yang lebih fundamental: bahwa Kekristenan sejak awal tidak dimaksudkan sebagai sebuah kitab yang ditafsirkan oleh komunitas-komunitas orang percaya yang berdiri sendiri, melainkan sebagai sebuah Gereja historis yang mewartakan, menjaga, dan menafsirkan kitab tersebut.

Begitu seseorang menerima premis itu, medan perdebatan berpindah. Bukan lagi dari “Alkitab saja” melawan “Alkitab dan Tradisi.” Melainkan ke pertanyaan yang jauh lebih konkret dan dapat diuji oleh sejarah: jika Kristus sungguh mendirikan Gereja yang dapat dikenali dalam sejarah, di manakah kesinambungan Gereja itu paling setia dipelihara?
Itu adalah pertanyaan untuk babak diskusi berikutnya. Tetapi untuk sampai ke pertanyaan itu, seseorang harus bersedia melewati pertanyaan yang lebih awal ini dengan jujur: apakah Alkitab yang kita pegang hari ini datang kepada kita melalui suatu komunitas historis yang mengaku menerima mandat dari Kristus untuk menjaga dan meneruskan iman para rasul?
Jika jawabannya ya, maka kesaksian komunitas itu tentang hal-hal lain tidak bisa begitu saja diabaikan.
Dan itulah pertanyaan yang, menurut saya, belum sepenuhnya dijawab oleh siapapun yang berpegang pada Alkitab saja.
Artikel ini merupakan pengembangan dari serangkaian diskusi apologetika yang dirangkum untuk pembaca umum. Argumen-argumen di dalamnya ditujukan bukan untuk memenangkan debat, melainkan untuk memetakan dengan jujur di mana letak persoalan yang sesungguhnya.
